Rabu, 16 Mei 2018

Kalau ditanya mengapa berdagang, ya jawaban termudah adalah ...

Berdagang itu Bersahabat dengan Toko Sebelah dan Menuai Senyuman Pelanggan


Sebut saja nama saya Noor – lahir dalam keluarga keturunan Arab yang menetap di Solo. Sebagian besar anggota keluarga berprofesi sebagai pedagang kain. Sedari dulu ayah, ibu, kakek, paman, dan anggota keluarga besar dari pihak ibu yang lainnya bergelut dalam dunia benang pintal dan kain – sandang. Keluarga besar dari Ayah yang bermarga Ba’abud, memiliki semangat tersendiri menjadi Pegawai Negeri. Saat itu sekitar tahun 1940an hingga awal tahun 1990an, pabrik kakek sempat tersebar di beberapa tempat di daerah Pasar Kliwon, Solo. Lambat laun, menciut dan mengerucut, keluarga ibu saya sudah tidak lagi bermain dengan benang pintal dan kain putih; mereka bermain batik. Sejak saat itu, orang tua saya tak lagi sibuk dengan urusan pabrik dan produksi pemintalan, mereka resmi menjadi pedagang.  

Kalau ditanya mengapa berdagang, ya jawaban termudah adalah karena kita lahir dalam keluarga yang terbiasa dengan urusan jual-beli (perniagaan). Dahulu, orang-orang Arab itu datang ke Nusantara sebagai pedagang. Seperti yang ditulis oleh L.W.C van Den Berg dalam Orang Arab di Indonesia (2010),“Orang-orang dari jazirah Arab itu datang secara bergelombang ke Indonesia. Mereka merantau ke luar negeri untuk mengadu nasib, atau seperti kata pepatah Arab: untuk mencari cincin Nabi Sulaiman yang kaya raya itu.”  Sebagai keturunan Arab, saya merasa kurang setuju kalau berdagangnya demi cincin Nabi Sulaiman, karena makin lama makin sadar kalau berdagang itu bukan sekedar mengumpulkan kekayaan, tapi lebih untuk menyambung kehidupan dan membalutnya dengan passion. 

Namanya dagang, pasti ada untung rugi, ada pasar ramai dan sepi, dan ada masa-masa dimana kita kena tipu, bahkan kehilangan materi dalam jumlah besar – seperti ketika Bilyet Giro: kosong! Saat-saat itu, kalau mau menempuh jalan hukum, disamping melelahkan, bertele-tele, menguras waktu, kita memilih, move on. Hilang ya sudah. Anggap saja itu harta lewat dan memang bukan milik kita danmengambil pelajaran agar bisa berdagang dengan lebih hati-hati, waspada, dan jangan sampai terperosok lagi. Mudah bicaranya, nglakoninya susah. Toh hidup selalu ada resiko. Tapi ini adalah pekerjaan yang mengikat semua anggota keluarga. Dedikasi dan gairah semua tertumpah membuncah saat kita ngobroltentang motif batik apa yang bisa laku di pasaran; belum lagi rasa bahagia ketika pembeli batik kita merasa puas dengan produk yang dibuat. Rasa bahagia itupun kita bagi dengan para pengrajin batik dan juga rekan-rekan (karyawan) di toko. 
(ketika pembeli adalah raja)


Meski menjual batik, kita sama sekali tidak terlalu terlibat banyak dengan proses membatik. Dulu sekali, Ayah dan Paman yang lebih banyak terlibat dengan produksi batik, mulai dari proses pencucian kain mori, hingga meracik obat dan pewarnaan, kegiatan ngrakel atau sablon kain, hingga menjemur kain.  Tapi ketika memasuki tahun 90an, beberapa Trade Centre berdiri, dan keluarga banyak yang beralih profesi. Namun kita tetap harus paham bagaimana proses batik itu dibuat, mulai dari kain putih (Rayon / Katun) atau biasa kita sebut putihan, hingga kain itu menjadi kain batik dengan aneka desain (ada yang dicap, diprint/printing, ada juga yang dikombinasi dengan lukisan). Ketika kita mengetahui bagaimana proses membatik maka kita bisa memberikan informasi kepada pembeli mengenai rangkaian pembuatan batik, sehingga mereka bisa memaklumi mengapa membatik itu butuh proses lama, dan juga mampu menjelaskan mengapa harga batik ada yang terjangkau, dan ada pula yang mahal. Proses pembuatan batik ini wajib dishare ke pembeli agar pembeli tahu bahwa kita tidak main-main dalam menaruh harga pasar dalam arti harga harus sewajarnya. Namanya pasar, harga dipasang, ditawar, kemudian terjadi akad. Jadi seni berdagang itu seni menaruh harga pasar yang bisa pas saat ditawar, tidak terlalu murah dan terlalu mahal, hingga akad terjalin. Setelah akad terjalin, berbahagialah semuanya, mulai dari karyawan toko (yang jelas mendapat bonus penjualan), pemilik toko, juga para pembatiknya (terlebih saat kebanjiran order). Mudah menceritakan prosesnya, tapi tidak semudah yang dikira – ini ada ilmnya tersendiri, dan pengalaman pahitlah yang mampu memberikan lebih. 

(Gambar: Pasar Klewer tampak dari depan)

Pedagang itu jarang punya hari libur, karena pasar tidak pernah tutup. Libur panjang itu saat Lebaran atau saat Pemilu – yang mana semua pusat perbelanjaan tutup atau buka setengah hari. Pasar itu, mulai Senin hingga Senin kembali, akan tetap buka; dari pagi jam sembilan hingga sore hari jam lima. Namun sekali lagi, demi pasar yang sehat: jangan menganggap kegiatan berdagang menjadi beban; jadikan pekerjaan ini sebagai bagian dari passion. Dengan begitu, ketika para pedagang bertemu dalam sebuah pasar, akan terjalin persaingan yang sehat; yang kita akan merasa senang saat toko sebelah itu buka dan laris, karena larisnya toko sebelah juga akan memberikan kelarisan tersendiri di toko kita sendiri. 

Suatu hari saya melewati pusat perbelanjaan terkenal di Solo, Pasar Klewer. Suasana di depan pasar dan di dalam pasar, tentu saja ramai. Tapi tepat di sebelah gedung, sepi. Lenggang. Liarnya alam menelan keramaian pasar. Saya pun menerawang jauh. Apakah kelak anakku akan meneruskan kegiatan berdagang ini atau tidak, dia yang akan memegang keputusan. Tapi apapun passionnya, dia kelak akan tetap melihat bahwa kegiatan manusia itu selalu berputar di sekitar Sandang, Papan, dan Pangan. Manusia akan selalu menciptakan pasar.

(gambar: Pasar Klewer tampak dari samping)

Kalau dalam dunia perdagangan kain konvensional, ada masa jaya dimana pesanan kain membanjir, tapi ada saatnya pasar nampak sepi – biasanya menjelang Lebaran, karena pasar yang dilirik adalah: pangan dan pakaian jadi. Tapi tentu saja saya dan keluarga tidak akan pindah perniagaan dari Sandang ke Pangan, kita tidak punya kemampuan dalam urusan pangan. Itu semua sudah ada aturan pasarnya sendiri-sendiri – kita tidak ada hoki dalam urusan Pangan. Saat pasar sepi, bukan berarti tengah mati, hanya kerumunan yang sedikit longgar. Kita harus bisa menikmati masa-masa itu. Kerja keras ini terbayar saat pelanggan kain batik tersenyum bahagia dan berbinar mata. Tugas pedagang sudah selesai sampai di sini. Sebagai pengikut Ikigai, saya mencoba untuk menyelesaikan tugas hari ini sebagai pedagang yang baik, dan juga pemilik toko yang engga galak. Meski sering jauh dari kata ‘baik dan bijak’, setidaknya berusaha mencoba menyelesaikan tugas diri masing-masing (di hari ini) – demi mendapatkan kembali senyuman dan ucapan matur nuwun dari pelanggan dan juga rekan kerja kita selepas menutup gerai toko dan disambut senja. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar