Kamis, 04 Juni 2026

Apakah kau telah melupakan Idul Ghadir?

Pintu itu tidak dikunci.

Barangkali karena Hossein percaya Idul Ghadir adalah hari yang cukup suci untuk melindungi sebuah rumah. Atau mungkin karena ia terlalu sibuk memastikan teh panas terus mengalir ke cangkir para tamu, sementara qasidah untuk Ali bin Abi Thalib berdengung lirih dari speaker kecil di sudut ruangan.

‘Ana madinatul ilm wa aliyun babuha ...’

Sesekali, paman-paman yang sibuk pagi itu juga menyanyi dengan fasih. Senyuman Hossein mengembang seiring dengan dibukanya jendela-jendela kamar oleh umi-umi yang pagi buta sudah membuat dadar telur di dapur untuk sarapan. 

Dari dekat jendela, Raed mendongak pelan. Ia mengenali suara motor-motor yang berhenti di gang sempit luar rumah ... suara yang datang terlalu pagi dan terlalu banyak untuk dianggap kebetulan. Sudah lima. Mungkin enam. Para tamu al Ghadir bersiap untuk merayakan lebaran hari ini. Acara dimulai pukul sembilan pagi, tapi persiapan sudah diawali jam enam. 

Tepat jam sepuluh, halaman rumah sudah penuh dengan motor dan tamu lebaran yang hadir. Mungkin puluhan orang, tapi hampir semuanya adalah keluarga. Tamu yang merupakan sahabat atau teman kerabat bisa dihitung dengan jari tangan, tidak lebih dari sepuluh orang. Laiknya seperti lebaran, acara ini akan bertahan hingga makan malam. Biasanya tamu lebaran di rumah Hossein akan menginap tiga sampai dengan lima hari jika mujur. Kita akan paham apa maksudnya dengan mujur nanti. 

“Belum ada tanda-tanda, Raed?”, tanya Hossein sambil meletakkan baki yang berisi minuman air putih di atas meja. 

“Sepertinya aman”, jawab Raed, “Paling engga jika kita mulus-mulus aja hingga makan siang, kita akan baik-baik saja hingga malam nanti”, tambah Raed sambil mengeluarkan pot tanaman dan meletakkannya di luar teras. Raed adalah sepupu Hossein dari pihak ibunya. Meski ia bukan madzab ahlulbait, ia selalu ikut jika keluarga besarnya yang kebanyakan Syiah itu mengadakan acara seperti maulid imam atau sayyidah fatimah, acara Asyura atau lebaran Idul Ghadir. 

Musik qasidah pun masih terdengar. “Jaddal Husain …. Jaddal Husain ….” Bersamaan dengan para keluarga yang berkumpul di ruang tengah, siap merayakan Idul Ghadir, di awali dengan membaca doa Nudbah serta teks ziarah untuk menghormati Imam Ali bin Abi Thalib. Rumah Hossein menjadi ruang majlis untuk mendengarkan ceramah sejarah peristiwa Ghadir Khum, membacakan puisi atau qasidah puji-pujian. Keakraban pun berlanjut hingga sore hari. 

Dan senja pun hadir, beberapa yang berpuasa pun siap berbuka sementara beberapa para tamu undangan sudah kembali berpulang tapi tidak mengurangi kepadatan rumah Hossein karena memang rumah saat lebaran akan selalu riuh dan ramai oleh keluarga besar mereka. Raed menghantarkan salah satu tamu Ami Jafar pulang menuju stasiun sore itu, dan sekembalinya dari stasiun dia melihat beberapa motor yang memarkir di dekat rumah. Dia tidak merasa bahwa itu adalah motor tamu-tamu lebaran atau sanak saudaranya. Beberapa orang yang di motor turun dengan gerakan yang mencurigakan karena celingukan seperti mencari seseorang tapi juga seperti tidak menanti seseorang. Hanya menunggu sesuatu. Kemudian muncul beberapa orang yang melangkah tergesa dan suara sandal yang menyeret amarah, terburu-buru dan cuma berdiri di depan pintu rumah Hossein. Tembok rumah Hossein cukup tinggi dan tertutup. Halamannya cukup luas menampung 3 buah mobil dan beberapa motor dan juga dipadati beberapa pohon buah-buahan seperti jeruk, jambu, dan sawo. Saat itu hanya ada satu buah mobil dan beberapa motor saja.

Raed menyapa kerumunan yang ada di depan rumah sepupunya itu, tapi tidak dibalas ramah, “Ayo bubar!” begitu kata salah satu mereka. Raed tidak membalas, dan segera menutup pintu gerbang halaman rumah. Ia menguncinya dengan cepat. Ia paham, ini akan terjadi, seperti biasanya, orang-orang akan memaksa kita bubar saat merayakan sesuatu. Menjadi Syiah bukan perkara mudah. Para tamu keluarga memilih mudik dengan kendaraan umum agar tidak terlalu mencolok karena tahun-tahun lalu saat mereka hadir dengan kendaraan pribadi, agak terlalu merepotkan kampung dan mengundang tanda tanya ada kegiatan apa di rumah keluarga Hossein.

“Zartosht … gawat …,” bisik Raed saat memasuki ruangan tengah yang penuh keluarga Hossein tengah menikmati buka puasa dan hidangan sore, Teh panas dan Sambosa. Zartosht mengangkat wajah dari buku kecil bersampul kulit yang sedang ia salin. Nama-nama cahaya dalam Avesta mengalir rapi di atas lembar kosong, ditulis dengan tinta hitam dan tangan yang tenang.

“Tidak aman?” tanyanya lirih, “Ada yang datang? Banyak tidak?”, tambahnya lagi bertanya, dengan nada yang sangat tenang. 

Raed tidak menjawab seketika. Ia hanya memejamkan mata sesaat ketika pujian kepada Imam Ali dari pengeras suara perlahan tenggelam oleh ketukan kasar di pintu kayu. Suasana berbuka puasa menjadi buyar. “Banyak ….” Jawabnya lirih. 

“Apa perlu kita hadapi atau bubar?” tanya Zartosht lagi, kali ini sambil berdiri. 

Ketukan di pintu makin keras dan semua orang pun terdiam. Suara musik dihentikan dan para wanita memeluk anak-anak kecil dan masuk ke bagian rumah paling dalam. Beberapa remaja perempuan masuk ke kamar bergerombol dan mengunci pintu kamar paling ujung. Pintu belakang selalu siap digunakan, tapi itu pintu belakang mengarah ke rumah tetangga yang kadang tidak selalu siap untuk dimintai bantuan. 

Raed dan Zartosht sigap berdiri dekat pintu gerbang rumah. Nafasnya tercekat, tetapi suaranya tetap tenang seperti api yang belum sempat menyentuh udara. Mereka memberikan komando agar orang tua, perempuan dan anak-anak mengumpul di satu tempat dan jika harus meninggalkan rumah maka bisa dilakukan dengan bertahap dan saling menjaga. Meski hal ini sudah sangat kerap terjadi, tapi tetap saja harus ada yang menemani mereka saat keluar rumah. 

“Aku lihat mereka banyak sekali kali ini, dan membawa kayu dan obor. Ini tidak seperti biasanya. Apa kita keluar sekarang?” tanya Zartosht. 

“Tidak,” jawab Raed cepat. 

Ketukan itu berubah menjadi hantaman. Mereka bersiap merobohkan pintu. Suara dentumannya keras sekali. Dan teriakan orang dari luar makin liar. Kata-kata makian bersahut-sahutan dengan teriakan Takbir. Mengerikan sekali. 

Mulai terdengar tangisan anak-anak kecil dari dalam rumah. Seorang perempuan memeluk mushaf dengan tangan gemetar. “Sakinah, mana Hossein?”, dan Sakinah masih terdiam, wajahnya ngeri melihat kepulan obor dari balik tembok rumahnya. “Sakinah, masuk! Ajak yang lain ke belakang. Kunci semua pintu.” Sakinah pun berlari mengajak remaja putri yang lainnya kembali ke kamar. Raed bergegas kembali menuju ruang depan, wajahnya pucat, matanya sibuk mencari Hossein.

Namun yang ia lihat justru Zartosht mengambil cangkir teh dengan tenang, seolah malam masih baik-baik saja dan dunia belum bersiap runtuh.

Raed mendekat cepat.

“Kalau mereka tanya siapa kamu, bilang saja kamu cuma orang asing yang tersesat.”

Zartosht tersenyum tipis. Ia meletakkan cangkirnya perlahan lalu menatap Raed lurus-lurus.

“Tapi kita bukan orang asing.”

Di luar, suara hantaman kembali terdengar.

“Aku terlalu dekat dengan rumah ini untuk berpura-pura tidak mengenalnya.” Ia menarik nafas pelan. “Dan jangan mencoba menghadapi semua ini sendirian, Raed. Kalau Hossein mencari kebenaran, maka kau adalah dinding yang menjaganya. Sedangkan aku … biarlah menjadi pelita kecil yang menemani langkah kalian.”

Zartosht terlalu dramatis. Dia selalu begitu. Tapi Raed terdiam. Zartosht melihat hal itu. Dia tidak ingin sahabatnya larut dalam ketakutan. 

“Kita hadapi malam ini bertiga,” lanjut Zartosht pelan, “atau tidak sama sekali. Tenang, aku akan bersama dengan kalian hingga akhirat nanti.” Zartosht meremas pundak Raed seolah memberikan tenaga untuk bangkit. Dan … 

Lalu pintu itu roboh. Ya pintu gerbang yang ringkih itu, beberapa kali dorong pun akhirnya roboh. Orang-orang dari luar entah siapa mereka, masuk seolah penasaran ada apa di balik tembok dan gerbang ini. Jantung Raed berdegup kencang. Ia melihat orang-orang berani menginjak rumput rumah Hossein. Zartosht senyum sinis dan jijik melihat orang-orang ini seperti ia melihat sampah berterbangan. Hossein dari dalam rumah, kaget menatap oarng-orang ini akhirnya tidak hanya sekedar demo di depan rumah tapi sudah berani masuk ke dalam rumah dan menginjak-injak rumput dan meludah di rumahnya. Hossein tak menyangka kalau massa benar-benar mengepungnya dari pintu depan dan pintu belakang. Ia sedari tadi mencoba untuk mengeluarkan sanak keluarganya dari pintu belakang tapi tidak bisa karena pintu belakang sudah di segel oleh pendemo. Bahkan pintu tidak bisa dibuka. Satu-satunya jalan adalah lewat pintu gerbang, yang sekarang sudah roboh. 

Dan Hossein akhirnya mengerti bahwa bahkan Idul Ghadir pun tidak selalu mampu menyelamatkan manusia dari kebencian sesama manusia.


…. …. ….


Hari sebelumnya, ....

... sebelum dunia belum terbakar.

Rumah keluarga Hossein dan Raed dipenuhi aroma mawar, dupa, dan kain-kain bersih, anak-anak kecil berlarian seolah esok masih bisa dijanjikan.

Zartosht datang lebih pagi dari yang diperkirakan. Di tangannya ada seikat mawar dan sebuah keranjang besar berisi kelopak segar. Mawar-mawar itu tidak disiapkan untuk ditaburkan di kuburan, tetapi untuk merayakan Ghadir Khum, lebaran yang tidak dikenal banyak orang, dan justru karena itulah dirayakan dengan lebih khusyuk.

“Khaleh Mah, mawar satu keranjang ini mau ditaruh di mana?” tanya Zartosht sambil membungkuk ke salah satu perempuan yang merupakan istri dari paman Hossein. Perempuan tua itu sedang bersimpuh menyalakan dupa.

“Masya Allah … cepat sekali kau beli mawar nak, ini masih terlalu pagi.” Khaleh Mah tersenyum kecil sambil merapalkan shalawat pelan. “Taruh di kamar-kamar. Dan sebagian di ruangan Khal Kadir. Kau tahu tempatnya. Hossein pasti ada di sana.”

Ia menyebut ruangan itu seperti menyebut tempat suci.

Padahal itu hanya kamar kecil berkarpet tua dengan dinding penuh bingkai foto — Ruhullah Khomeini, Ali Khamenei, dan Hassan Nasrallah memandang dari sudut-sudut tembok yang mulai kusam. Rak-rak kayu penuh sesak oleh ribuan buku filsafat, tafsir, dan sejarah Islam. Aku menemukan novel cinta Ibnu Sina pertama kali di ruangan ini dan mengagumi Risalah Cinta nya yang ia tulis. Di sanalah kajian Falsafatuna diadakan setiap Rabu pagi selama lebih dari empat puluh lima tahun, seolah waktu tidak pernah benar-benar pergi dari ruangan itu. 

Di luar, halaman sedang dibersihkan. Di dalam rumah, anak-anak berlarian sambil membawa kantong plastik berisi permen yang diperebutkan dengan tawa, dan ini masih jam enam pagi. 

Mereka belum tahu bahwa setiap tawa kadang memiliki ekornya sendiri — takdir kecil yang diam-diam mengikutinya dari belakang.

Zartosht memanggil Hossein beberapa kali, tetapi hiruk-pikuk rumah menelan suaranya. Ia menyusuri lorong rumah yang menghubungkan teras depan dengan ruangan tengah: sanak saudara yang datang dari jauh, anak-anak yang berlarian tanpa arah, ibu-ibu yang merapikan bantal dan koper di atas lantai yang baru dipel.

Sejenak ia berhenti dan memandang sekeliling.

“Ini benar-benar lebaran …,” gumamnya pelan.

Zartosht memang tidak sedarah dengan keluarga itu. Namun ia terlalu sering hadir dalam rumah tersebut hingga tak ada yang lagi mengingat kapan tepatnya lelaki Majusi itu berhenti dianggap tamu. Ia tahu letak sendok-sendok dapur. Ia tahu nama kucing-kucing tua yang tidur di bawah sofa. Dan para kerabat Hossein memperlakukannya seperti seseorang yang sejak awal memang ditakdirkan ada di tengah keluarga mereka. Bukan sekedar beda madzhab, tapi sudah beda agama. 

Entah mengapa, rumah Hossein pagi itu mengingatkannya pada Nowruz — pada musim semi yang hanya hidup utuh dalam ingatannya sendiri. Dulu, sebelum kematian merapikan seluruh keluarganya satu per satu, rumah kecil mereka juga pernah dipenuhi wangi serupa: bunga, api, manisan, dan suara orang-orang yang percaya tahun baru bisa membawa kehidupan baru. Namun tanah ini bukan Persia, dan bertahun-tahun hidup jauh dari akar membuat kenangan itu terasa seperti bahasa lama yang perlahan kehilangan penuturnya. Zartosht menundukkan wajah sambil tersenyum tipis. Ia yatim piatu terlalu muda untuk benar-benar mengingat suara ayah dan ibunya, tetapi pagi itu, di tengah rumah Syiah yang ramai dan hangat, ia tiba-tiba dilanda kerinduan yang aneh terhadap sebuah rumah yang bahkan mungkin sudah tidak ada lagi dalam ingatan.

Paman-paman sibuk membentangkan karpet, menyikat dan menepuk-nepuknya hingga debu-debu lama beterbangan seperti kenangan yang enggan tinggal diam. Para ibu menyiapkan hidangan hari raya dengan tangan yang kuat oleh usia dan pengabdian.

Bukan opor dan juga bukan lontong. Melainkan nasi saffron dan teh kapulaga — rasa-rasa lama yang nyaris terlupakan, seolah diaspora telah perlahan menghapusnya dari lidah generasi mereka sendiri.

“Ini lebaran,” kata Raed sambil menuang air panas ke dalam cangkir. “Hanya saja bukan lebaran yang dikenal banyak orang.” Ia tersenyum tipis. “Kita merayakan sebuah janji.” tambah Raed. 

“Janji yang dilupakan sejarah,” Zartosht menambahi lirih. Kemudian ia mengangguk ke arah sekumpulan lelaki yang sedang mengangkat papan tulis besar di ruang tengah. Zartosht melihat sekelibat ada Hossein yang sibuk sekali. Senyumnya melebar. 

“Syams-mu ada di sana”, Raed menepuk pundak Zartosht.  

Zartosht segera mengikuti arah pandang Raed dan menemukan Hossein berdiri di tengah hamparan karpet merah dan hijau. Ruangan itu — perpustakaan kecil yang untuk sementara disulap menjadi ruang majelis, sebuah Huseiniyah sederhana yang dipenuhi aroma dupa yang hanga. Dulu rumah keluarganya juga pernah seramai ini sebelum semuanya dihancurkan oleh orang-orang yang menuduh mereka sebagai pengikut Baha’i, hanya karena keluarga Zartosht hidup berdekatan dan berteman baik dengan komunitas Baháʼí Faith. Kenangan itu datang begitu tiba-tiba hingga dadanya terasa sesak. Lamunan itu buyar saat Hossein mendekat lalu menyalami Zartosht dengan hangat. Jemarinya menepuk pelan bahu sahabatnya itu, seolah menariknya kembali dari tempat yang jauh dan gelap. Zartosht tersentak kecil. Untuk sesaat ia masih terlihat berada di antara dua dunia — antara rumah yang riuh oleh Idul Ghadir ini dan bayang-bayang rumah masa kecilnya yang telah lama musnah. Ia mencoba tersenyum, tetapi matanya menyimpan sisa sesuatu yang belum benar-benar pergi. Hossein menyadarinya, meski tak bertanya apa-apa. Beberapa kenangan, pikirnya, tidak membutuhkan pertanyaan untuk membuat seseorang terluka kembali.

Musik diputar pelan. Dawainya mengalun lirih, setengah bernyanyi, setengah menahan napas. Seolah rumah itu tahu tidak semua tetangga di kota ini mampu membedakan antara ziarah dan ancaman.

Barangkali memang hanya ada satu rumah di kota itu yang merayakan Idul Ghadir secara terbuka: rumah Khal Kadir.

Hossein memandangi bunga di tangan Zartosht.

“Pernikahan?” godanya. “Ahh … kau memang benar-benar berniat melamarku di hari raya?”

Zartosht tertawa pelan. Ia sudah kebal dengan lelucon nyleneh sahabatnya itu. Ia menjelaskan ke Hossein kalau mawar ini pesanan Khaleh dan Hossein memahami dan menggiringnya ke arah kamar yang dimaksud. Mereka berdua merapikan kamar dan menaruh mawar itu di sudutnya. Dan untuk sesaat, ruangan itu berubah menjadi tempat yang terlalu hangat untuk disebut sekadar persahabatan. Beberapa kali ia pernah berkata — separuh bercanda, separuh serius — bahwa andaikata Hossein seorang perempuan, mungkin ia sudah melamarnya sejak lama. Namun barangkali itu memang tidak penting. Sebab selama setiap lebaran masih mempertemukannya dengan orang-orang yang ia kasihi, dunia terasa cukup utuh untuk ditinggali.

Hossein dan Zartosht keluar dari kamar itu dan terdengar gelak tawa menyebar ke sudut-sudut rumah seperti asap dupa yang tak jelas berasal dari mana. Wangi saffron bercampur teh panas dan suara anak-anak menggema di segala sudut.

Dan entah siapa, diam-diam berdoa dalam hati: Semoga hari ini berakhir tanpa luka.

Namun hari tidak pernah membuat janji kepada manusia.

Dan waktu, seperti biasa, hanya mencatat. Waktu seakan menyentuh pundak rumah itu dan berbisik: Lihatlah baik-baik. Karena besok, semua ini mungkin tinggal abu.

…. …. ….


Dan itulah yang terjadi di hari ini. 

Pintu gerbang dari besi itu roboh. Rumah seperti menganga. Hossein membeku di tempatnya berdiri. Di belakangnya tampak beberapa kerabat laki-laki yang sudah berumur lebih dari tujuh puluh tahun, juga beberapa wanita tua dan anak-anak yang tidak berani banyak gerak. Beberapa sepupu mudanya mulai memblokade dengan tubuh mereka dan argumen yang terdengar semakin sia-sia. 

“Ada yang salah … seharusnya jangan begini” gumamnya. Hossein tak mengira akan seperti ini. Dadanya bergemuruh hebat, bukan hanya karena ketakutan atas keselamatan keluarganya, melainkan juga karena hantaman emosi yang menyumbat tenggorokannya. Ia ingin marah dan berteriak dengan orang-orang yang merangsak ke rumah yang tengah merayakan hari raya di negara dengan Lima Sila ini.

Dia melihat Raed yang berdiri kokoh bak dinding karang di depannya — seorang Sunni yang seharusnya bisa aman di luar sana, namun memilih menaruh nyawanya di garis depan demi melindungi rumah Syiah ini. Di sisi lain, tatapannya bertumpu pada Zartosht, sahabat karibnya, lenteranya, sosok “Shams” yang selalu menuntun jiwanya keluar dari kegelapan, seorang Majusi yang kini berdiri dengan tenang tanpa gentar sedikit pun menghadang kerumunan pembenci Syiah.

Hossein merasa matanya memanas. Bagaimana bisa takdir mempertemukan dirinya dengan dua jiwa yang begitu agung, yang siap lumat bersamanya di hari suci ini? Rasa bersalah dan cinta yang meluap-luap membuat lututnya lemas, namun ia menolak untuk jatuh dalam amarah. Ia menahan semua itu dan mencoba berpikir tenang.

Dari balik bingkai pintu yang hancur, pemandangan mengerikan langsung menyergap mereka. Gelombang massa berhelm hitam kembali berdesak-desakan merangsak maju memenuhi halaman. Wajah-wajah mereka tertutup kepulan asap dari obor yang menyala-nyala. Di tangan mereka, balok kayu tebal dan tongkat di acung-acungkan ke udara, memukul pagar pembatas hingga menimbulkan suara bising yang memekakkan telinga. Pekikan takbir yang penuh kemarahan bersahut-sahutan, menuntut agar lebaran Idul Ghadir dibubarkan. Cahaya merah dari obor memantul di kaca-kaca jendela, sementara wanita dan anak-anak di ruang tengah mulai panik.

Hossein bersuara lantang, menyuruh anggota keluarganya tetap tenang dan mencoba berdialog dengan kerumunan yang membawa api. Dan persetujuan dicapai: bahwa semua orang akan meninggalkan rumah. Sekarang!

“Anak-anak, perempuan, dan orang tua harus keluar dari rumah ini terlebih dahulu. Satu-satu! Kamal, Zaki, Toha, antar mereka!” pekik Hossein lantang, “dan pastikan tidak ada yang tersentuh” bisiknya kemudian. Kemudian Hossein memberi pesan kepada tiga sepupunya itu dalam bahasa Arab: kalau kerumunan memaki, diamkan. Kalau memukul, jangan dibalas. Langsung tinggalkan tempat dengan tenang dan cepat, dan jangan melihat ke belakang. “Paham?” Hossein memastikan, dan anak-anak muda itu mengangguk. 

Setelah semuanya mengerti, puluhan sanak keluarga, kerabat, dan sahabat Ahlul Bait mulai keluar dari rumah. Dan benar, semuanya di antara mereka ada wanita dan anak-anak itu dimaki, diludahi, bahkan di foto seolah-olah mereka penjahat.

“Pemandangan yang indah bukan, Hossein?” kata Zartosht pelan. “Persis seperti saat keluarga Nabi dulu diperlakukan oleh orang-orang yang membencinya.”

Hossein menahan air mata.

Namun hal yang paling menyakitkan yang tertangkap oleh matanya hari itu adalah beberapa meter di belakang kerumunan anarkis tersebut, di bawah tiang listrik, dua unit mobil patroli polisi yang terparkir diam. Beberapa aparat berseragam lengkap berdiri bersandar dengan tangan bersedekap. Mereka hanya menonton. Tidak ada gas air mata yang ditembakkan. Tidak ada barikade yang dipasang. Tidak ada gerakan untuk mengamankan keadaan. Mereka hanya berdiri mematung layaknya penonton bioskop, membiarkan hukum rimba merobohkan rumah seorang warga negara, seolah Hossein dan keluarganya tidak pernah berhak atas perlindungan dunia.

Makian seperti “pelacur mut’ah” dan “kafir” keluar dari mulut massa seperti rapalan zikir yang penuh kebencian. Hossein dan Raed menemani Zaki dan Kamal melepas kerabat mereka satu per satu meninggalkan rumah, memastikan tidak ada insiden pemukulan di tengah kepanikan itu.

Hossein berusaha memperhatikan wajah-wajah di antara kerumunan tersebut. Beberapa di antaranya ia kenal sebagai orang-orang yang memang anti-Syiah dan getol melawan Syiah bahkan mendirikan Aliansi Anti Syiah di negara ini. Namun jumlah massa malam itu terlalu banyak, dan hampir semuanya menutupi wajah mereka. Bahkan dari mata mereka pun Hossein kesulitan mengenali siapa sebenarnya orang-orang yang datang membawa kebencian itu.

Raed mengeraskan kepalan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, sementara Zartosht melangkah setapak lebih maju, berdiri tepat di sisi kiri Hossein.


…. …. ….


Setengah jam berselang setelah Kamal, Zaki, dan Toha menghantarkan anak-anak, wanita, dan orang tua keluar rumah dengan aman, rumah itu kini hanya berisi para tetua dan lelaki-lelaki yang berusaha menjaga agar massa tidak masuk ke ruang perpustakaan. Semua barang berharga ada di dalamnya. Ribuan buku itu adalah hal harta yang tak ternilai buat mereka semua. Di ruangan ini terdapat salinan dari tulisan-tulisan Imam dan Ikhwan Al Safa yang sering mereka bahas. Rumah boleh dibakar, tapi buku, tidak. Apapun yang terjadi Husainiyyah harus utuh.

Pintu-pintu bagian dalam rumah dikunci dan dijaga beberapa lelaki yang siap memberikan nyawa mereka demi mempertahankan bangunan itu. Para pemuda belasan tahun pun enggan pulang.

“Inilah saatnya kita mengikuti jejak Imam,” kata mereka berulang-ulang dengan mata berapi-api.

“Ya Hussain!!” teriak mereka bersahut-sahutan.

Teriakan memanggil Imam Husain itu menyadarkan Hossein ketika massa mulai merangsak masuk dan mengamuk membabi buta. Kayu menghantam tangan dan kepala Raed hingga darah segar mengucur deras, sementara Hossein yang ikut melawan sempat kewalahan dan diseret jatuh ke tanah.

Di tengah kekacauan itu, sebotol minyak dilemparkan ke dalam rumah. Api langsung menyala cepat, menjilat gorden dan hendak melahap kitab-kitab serta dinding rumah. Hossein melihat polisi dan aparat keparat itu kewalahan menghadang massa yang berusaha membakar rumah. Para remaja tanggung Ahlulbait bergantian jatuh bangun menyalakan keran air di sepanjang rumah. Listrik dimatikan, dan semua orang berusaha sekuat mungkin agar api tidak merusak ruang tengah dan perpustakaan Khal Kadir.

Para anarkis bersorak puas. Tetangga mengunci pintu rumah mereka dari dalam. Senyum sinis memenuhi wajah orang-orang yang mengira hari itu adalah kemenangan mutlak bagi dominasi mereka.

Salah.

Hari ini adalah Idul Ghadir.

Seketika belasan pemuda Ahlulbait di garis depan yang beberapa dari mereka sudah tumbang dan terkapar, diseret masuk ke ruangan depan oleh pendemo, termasuk di dalamnya ada Zaki, Kamal dan Toha. Setelah itu ruangan dikunci dan dibakar dari luar. Dari dalam kobaran api yang semakin membesar, tidak terdengar jeritan ketakutan. Yang terdengar justru suara Zartosht yang menggema, melantunkan doa kuno Ashem Vohu dalam bahasa Avesta dengan nada yang menggetarkan.

Ashem vohu vahistam asti us ta asti us ta ahmai hyat asai vahistai asem.

Ashem vohu vahistam asti us ta asti us ta ahmai hyat asai vahistai asem.

Ashem vohu vahistam asti us ta asti us ta ahmai hyat asai vahistai asem.

Tiba-tiba arah angin berbalik dengan ekstrem. Api yang membakar rumah Hossein tidak lagi berwarna jingga biasa. Perlahan kobaran itu berubah menjadi biru keperakan yang murni — Atar, api suci yang dihidupkan oleh keteguhan jiwa.

Api itu tidak membakar kulit tiga sahabat yang berpelukan melindungi pemuda-pemuda belasan tahun yang berani menjadi tameng rumah. Alih-alih melumat mereka, api suci itu justru hidup dan melesat keluar seperti ombak raksasa yang memiliki mata.

Wussshh!

Teriakan takbir kemenangan berubah menjadi jeritan histeris minta tolong. Para anarkis kocar-kacir, berguling-guling di tanah mencoba memadamkan api yang anehnya tidak bisa dipadamkan dengan air. Api itu membakar dan panas, tetapi tidak melelehkan kulit mereka. Api itu membakar kesombongan mereka, senjata, jubah, dan kendaraan mereka. Membakar habis. Tidak ada sisa lelehan daging manusia. Hanya ada debu pembakaran di mana-mana.

Di luar, mulut para polisi menganga lebar hingga rahang mereka kaku. Saat mereka hendak menolong, jilatan api menjulur. Saat mereka ingin melarikan diri, mesin mobil tiba-tiba mati total. Seakan semuanya lumpuh oleh gelombang panas spiritual yang tak kasat mata.

Semua yang melihat kejadian itu berlutut di atas aspal dan halaman dengan tubuh gemetar, menyaksikan sesuatu yang meruntuhkan logika. Semuanya terjadi begitu cepat. Dan ketika kepulan asap mulai mereda, terlihat perlahan-lahan rumah Hossein masih berdiri utuh meski berantakan di sana-sini.

Hossein berlari menuju Zartosht yang terhuyung-huyung. Darah mengalir dari mulut, hidung, dan telinganya. Namun di tangannya, naskah yang biasa ia salin tetap utuh.

Hossein masih mengingat kejadian saat perusak mulai merangsak masuk ke halaman rumah dan mulai membakar. Zartosht tidak melawan mereka, ia mundur agak ke belakang dan membiarkan Raed dan Hossein menghadang para pembakar. Api nyala di mana-mana. Dan ketika salah seorang dari mereka melemparkan kayu api tepat di dekat Zartosht, Husain hanya mampu berteriak tak mampu menyelamatkan. Dan disitulah dia melihat, di tengah pusaran badai api biru keperakan itu, Zartosht tidak lagi tampak seperti seorang penyalin kitab yang rapuh. Tubuhnya tegak lurus seolah menjadi poros antara langit dan bumi. Matanya yang biasanya teduh kini terlihat memantulkan cahaya Atar. Kedua tangannya terentang ke udara, jemarinya bergetar hebat menahan beban energi spiritual yang besar. Keringat dingin bercampur darah yang keluar dari luka-luka gores. Mulut dan hidungnya menyembur darah, namun wajahnya menampilkan ketenangan yang magis sekaligus mengerikan. Setiap kali Zartosht merapalkan mantra Ashem Vohu, angin dan api berkobar liar. Namun, membangkitkan keadilan semesta menuntut harga yang mahal. Badai api hanya terjadi tidak lebih dari 3 menit tapi terasa lama dan dahsyat. Dada Zartosht kembang-kempis dengan berat dan tubuhnya mulai terhuyung gemetaran akibat Ashem Vohu.

Kebenaran adalah yang paling mulia. Dari kebenaran lahir kebahagiaan. Berbahagialah mereka yang mengabdikan diri kepada Kebenaran yang sempurna.

Melihat sahabatnya tak mampu berdiri lagi, Raed dan Hossein terkesiap lalu melesat membantu.

Hossein, sosok yang jiwanya terpikat oleh spiritualitas Zartosht, merasakan dadanya sesak oleh emosi yang meluap. Di matanya, Zartosht adalah lentera raksasa, Shams mataharinya yang seharusnya tidak membakar dirinya sendiri demi menghalau kegelapan yang mengepung mereka.

“Zartosht!!” pekik Hossein. Suaranya sarat oleh kekhawatiran dan rasa cinta yang mendalam.

Hossein berlari maju lalu berlutut di belakang Zartosht dan menempelkan kedua tangannya ke punggung sang Majusi. Yang awalnya hanya ingin menyangganya, perlahan berubah menjadi pelukan. Hossein memejamkan mata dan merapalkan shalawat serta doa-doa perlindungan, mencoba menyalurkan seluruh sisa energi dan keteguhannya untuk menjadi penopang batin bagi Zartosht yang semakin melemah.

Setelah Raed memastikan keselamatan penghuni rumah yang lain, memastikan pula api tidak merambah bagian tengah rumah, dan menyelamatkan remaja-remaja kecil tangguh tadi ke dalam rumah, ia mendekati Zartosht dan Hossein. Raed memastikan dua sahabatnya yang tengah saling menyembuhkan itu tetap terlindung. Ia melindungi mereka dari serpihan kayu atau puing bangunan runtuh yang dapat menyentuh dan mengganggu konsentrasi mereka.

Mereka bertiga membuktikan bahwa ketika tiga jiwa suci saling mengikatkan diri sebagai belahan jiwa, bahkan hukum alam pun harus tunduk pada kekuatan persahabatan mereka.

…. …. ….


Ketahuilah — semoga Allah memuliakanmu dengan ketaatan — bahwa cinta dan persahabatan sejati bukanlah perkara yang lahir dari keterikatan dunia, melainkan dari keterpautan sisi-sisi jiwa yang telah digariskan sejak alam azali. Sungguh, apa yang kusaksikan malam itu di reruntuhan yang menghitam adalah hujah — bukti nyata yang meruntuhkan segala prasangka manusia.

Ketika kepulan asap terakhir dari api suci Atar itu mengangkasa, raga Zartosht sang majusi hampir luluh ke bumi. Namun sebelum sempat debu menyentuh pakaiannya, dua lengan kokoh Hossein menangkapnya dengan kesiagaan yang didorong oleh kepanikan cinta. Raed yang tangannya terbiasa bersedekap khusuk menghadap kiblat ini menggunakan tangannya untuk menahan sisa sisa reruntuhan bagian rumah yang terbakar, ia juga menyeka wajah dan darah-darah yang menutupi luka-luka sahabat-sahabatnya itu. 

“Kalian … tak akan kubiarkan mati dengan sia-sia …” katanya lega saat melihat dua sahabatnya yang tadi sempat terkepung api perak biru kini dalam keadaan baik-baik saja. Di sisi lain, Hossein mempererat dekapannya pada tubuh Zartosht. Matanya basah oleh air mata duka sekaligus lega saat Idul Ghadir dia melihat belahan jiwanya dalam keadaan utuh, “Jika maut bersama kalian adalah takdir yang tertulis malam ini, aku akan menyambutnya seolah ia adalah malam pengantin, sahabatku.” Hossein mengatakan itu saat mendekap Zartosht, menempelkan pipinya ke pipi Zartosht yang bermandikan darah, sementara matanya lurus menatap Raed. 

Zartosht terkekeh pelan di antara sisa nafasnya yang berat, menyandarkan kepalanya di antara bahu kedua pria Sunni dan Syiah tersebut. “Api tidak akan pernah membakar rumahnya sendiri, Hossein. Dan jiwa kita … adalah api yang bersumber dari pelita yang sama. Jadi, malam ini, hari perkawinan kita semua?” 

Tawa lega berkelakar di antara mereka bertiga. Sementara sisa penghuni rumah yang lain mulai berbenah. Tak satu mayat dari anarkis ditemukan, mereka menguap bersama api. 


Mereka mengira madzhab telah memisahkan air dan pelita

Namun malam itu, cinta meleburnya dalam satu bejana.

satu bersujud dengan tangan terbentang, satu bersedekap dada, dan yang satu menjaga api suci agar dunia tidak guluita. 

Tiga tubuh berlainan kiblat dalam hukum nanusia. 

Namun Di hadapan langit, mereka adalah satu jiwa. 


Warga sekitar yang tadinya apatis perlahan membuka jendela dan pintu rumah mereka. Mereka memandang ke arah halaman yang nampak rata bagai lapangan, menghitam, melihat para polisi yang gemetar ketakutan. Penyesalan yang teramat sangat menyergap dada warga dan aparat. Mereka meratapi kebodohan mereka sendiri, sebagai mereka menyadari telah mencoba memadamkan sebuah cahaya yang dijaga langsung oleh pemilik alam semesta. 

Dunia melihat tiga aliran itu sebagai yang dianggap mustahil beriringan. Namun malam itu, di atas puing-puing tirani hangys, mereka menjelama sebagai sikbol persahabatan paling abadi. Rumah mereka memang telah runtuh sebagain menjadi abu, namun sisanya, dan kitab-itbanya yang masih utuhs, menjadi Kuil Persaudaraan Manusia dna menjadi Rumah Hikmah – tempat kelak para pemikir bermunculan dan mencerahkan dunia – rumah Kebijaksanaan. 

Malam itu, di Idul Ghadir, dendam terbalas tuntas bukan dengan pedang manusia, melainkan dengan keadilan api suci yang membakar habis kesombongan. Saat diperlukan, kebijaksanaan bisa seganas kobaran api. Ada pula api yang membakar tersebut asalnya dari dalam dirimu sendiri. 


(bersambung)

مگر عیدِ غدیر را فراموش کرده‌ای؟ 

 





catatan kaki:

Idul Ghadir adalah hari raya yang diperingati sebagian umat Muslim, terutama Syiah, untuk mengenang peristiwa Ghadir Khum, saat Nabi Muhammad diyakini menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai penerus spiritualnya. Bagi banyak pecintanya, hari itu bukan sekadar perayaan, melainkan peringatan atas janji yang diyakini terlupakan oleh sejarah.