Tampilkan postingan dengan label aida vyasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aida vyasa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Agustus 2019

u m p a m a sebuah u m p a t a n


pembahasan tentang Twin Flame itu menyebal dan percuma. Buat apa sih. Kalau tau dia Twin Flame, so? Ngapain? berusaha mati-matian biar bersatu kembali. Wis ora ngoyo. Ahsan nemuin kembaran baru aja buat disimpan hingga masa selanjutnya. 

Menyebalkan dan percuma itu sekedar mengumpat cara halus. Sak jane, aku ya demen mengulik masalah Twin Flame tapi endingnya lebih menyakitkan daripada saat belum menemukan atau merasa menemukan. 

Kau tau khan aku hobi melihat seseorang dari matanya. Bisa dapet macam-macam hal dari mata. Tapi kadang juga ... umm ... malah ribet sendiri jadinya. Ada hal yang engga boleh dibuat mainan saat mata bertukarpandang karena itu b a h a y a!

hantu di Lembang .. purnama terbilang gemilang. Sukses!




Aku bukan orang yang bisa melihat Djinn sewayah-wayah; cuma kadang-kadang aja aku bisa melihat dan merasakan dan itu aja engga bisa detail. Jadi kalau aku sampai melihat entitas itu,berarti dia mengeluarkan energi cukup besar untuk memberi petunjuk. Sayangnya aku engga terlalu minat untuk mengikuti petunjuk mereka.

Purnama kemaren aku melihat Djinn berupa kakek tua di Bosscha Lembang. Saat itu malam belum larut dan aku berdua dengan teman duduk dekat Observatorium utama paling atas. Suasana memang sepi sih engga ada orang sama sekali. Udara dingin tapi engga ada angin, dan tiba-tiba muncul itu siluet kakek tua dari arah pohon besar dan berjalan perlahan. Yang aku heran, fisiknya siluet dan itu cukup aneh untuk disebut manusia. Dia berjalan .. tuma'ninah gitu modelnya ha ha ha. Aku bilang ke temanku, 'itu orang khan?' temenku ga jawab apa-apa dan langsung nubruk narik tanganku ngajak lari. Aku masih penasaran, ni temenku ngerjain aku apa engga, jadi aku tanya dia berkali-kali sambil nunjukin itu sosok bayangan yang masih jalan menuju gedung Bosscha. Temanku itu langsung tegas bilang, 'Engga ada orang, mbaaak!!' wajahnya pucat. Aku memastikan bayangan itu menghilang kemana dan engga nyusul di belakang kita dan kita pun ngibrit lari turun ke Wisma di bawah hahaha. Lucu banget adegannnya kalau ada CCTV pasti geli lihatnya.

Jarang banget sih aku lihat penampakan gitu ditemenin teman yang absurd. Aku engga terlalu nyaman dengan penampakan-penampakan. Feelingku, kalau mereka sering berani muncul di aku, ntar bikin aku jadi mudah was-was; tapi itu aku juga lawan sih. Bukan dengan ayat; soalnya feelingku juga mengatakan kalau mereka ga terlalu mempan dengan ayat; mereka sudah akrab. Maka itu aku lawannya dengan akal saja. Kalau aku aktifken logikaku, mereka engga mudah main-main ke aku.

Kamis, 24 Mei 2018

Guru berpulang ... selamat jalan pak Hernowo Hasim ...

Suasana Ramadhan dan Jumat, mendengar kabar kalau Guruku, pak Hernowo Hasim telah berpulang: Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un. Semoga keluarganya yang ditinggal diberi ketabahan yang berlimpah dan pak Hernowo kini berpulang dengan tenang. Lama tidak lagi bercakap belum tentu kita tidak terikat. Setiap saat, petuah dan nasihat dari beliau, melekat. Setiap hari, seperti yang selalu beliau ujar dalam warisan kitab-kitab aturan menulis dan mengikat makna; jangan sampai tidak menulis (mengikat makna yang bertebaran di alam).

Ada banyak wawasan yang beliau bagi dengan kita semua. Hal itu membuat kegilaanku akan menulis dan membaca pun menjadi-jadi! Kegiatan membaca menjadi sebuah ritual sakral yang mana buku bukan cuma dibaca, tapi diulas kembali dalam bentuk tulisan. Karena aku lebih menyukai kegiatan menulis dengan tangan, semua tulisan itu tertuang dalam jurnal-jurnal harian. Tertimbun nyaman untuk kemudian jika jari ini menemukan waktu yang tepat, akan kembali memberanikan melahirkan kitab. Selamat Jalan, Guruku. Budi baikmu, terikat denganku (kita semua) sepanjang masa. Terima Kasih.

Kamis, 23 Februari 2017

Pengalaman Regresi Masa Lalu 2: ubun-ubun yang terluka dan berdarah

Sebelum lupa melanda, aku mau menulis satu kisah pengalaman masa laluku - maksudku, past-life regresi. Kalau tempo lalu ku cerita tentang pengalamanku naik ayunan di atas kolam , maka kali ini ku mau cerita tentang saat kepalaku tertusuk batang pohon tepat di ubun-ubun. Jadi begini ....

Situasinya adalah:

Saat itu aku berumur kira-kira 12 tahun, dan tengah bersiap-siap menonton penyembelihan Qurban di sebelah rumahku. Saat itu ada sepupuku, Initial D yang juga menonton. Kita berdua, duduk di batang pohon besar yang telah ditebang. Saat duduk, tak sengaja aku merebahkan kepalaku seakan ingin bersandar, dan JLEB! sebuah batang pohon yang cukup runcing menusuk ubun-ubun kepala. Aku ingat saat itu aku langsung memanggil mamaku sambil miris karena darah menetes dari kepala bercucuran. Setelah itu tak ingat apa-apa lagi dan sudah di rumah sakit karena aku ternyata (juga) sakit demam berdarah. Saat di rumah sakit aku terus-terusan memegang ubun-ubun kepala dan mencari luka yang kemaren kudapati, ternyata tidak ada. Aku tanya ke mamaku, 'Luka di kepalaku kemana?' Mamaku bingung dan bilang kalau ku tidak ada luka di kepala, dan ke rumah sakitnya itu karena demam berdarah. Lalu, cucuran darah dari kepala yang sempat kurasakan kemarin itu apa yah? Apa mimisan? Tapi rasa sakit di ubun-ubunnya itu nyata. Pedihnya suka masih terasa kalau ku meraba kepala. Ku engga habis pikir, aku ingat, aku tulis itu semua di buku diari dan keheranan, karena berarti sudah ada dua pengalaman yang aneh yang kurasakan seolah nyata, tapi itu kok tidak pernah terjadi dan tidak ada yang menyaksikannya kecuali diriku yang mengalami. 

Setiap aku baca lagi buku diariku suka masih bertanya-tanya, pengalaman-pengalaman begini apa juga dialami oleh semua orang atau hanya beberapa orang yang mengingatnya? Kalau aku sih tipe orang yang mudah lupa, maka itu aku menulis. Sosok yang kurasakan saat ku berdarah-darah karena batang pohon itu, adalah sosok anak perempuan, dengan baju kuning, lusuh sekali bajunya, dan saat berdarah-darah itu dia berjalan memanggil mamanya, kemudian, mamanya dengan tenang menuntunnya turun dari tangga dan setelah itu INGATANku lepas, aku tak ingat apa-apa lagi kecuali aku tengah duduk di sebuah tempat tidur dalam ruangan rumah sakit dan kulihat tangan dan kakiku ada bercak-bercak merah demam berdarah. 

Kalau itu sekedar mimpi, tentu aku merekamnya dalam buku Diari Mimpi, bukan buku Harian. Aku juga pernah demam tinggi mencapai 40 derajat Celcius lebih hingga mengigau ada Raja Ikan yang lari-lari di kebun rumahku, sampai aku bangun dari tempat tidur dan lari memanggil mamaku. Karena mengigau saat demam itu lucu juga, aku merekamnya dengan Tape Recorderku. Banyak hal yang kubicarakan ternyata, tapi tidak ada yang seNyata ubun-ubun kepala yang buncur berdarah-darah karena tertusuk dahan pohon. Jadi sepertinya saat itu bukan mengigau. Tapi ya sudah, kalau sudah dilepas sebagai kisah, siapa tahu ada yang mengenaliku ha ha ha ;)


Rabu, 22 Februari 2017

Spirit dalam Serial Drama Korea GOBLIN. Ya! Spiritualitasnya ... spirit juga khan? :)


Awal lihat film ini sekitar awal-awal bulan Januari 2017, sebagai salah satu dari banyak hal baik yang terjadi selepas Desember 2016 karena film ini menceritakan hal-hal yang sarat pasal spiritual, meski dikemas dengan sesuatu yang romantis. Judulnya lebih dikenal dengan GOBLIN bisa dicek di link yang kutautkan. Ku tidak pernah mengulas tentang Drama Korea, bahkan Jang Geum, Full House dan Winter Sonata pun kulewatkan begitu saja dan tidak kutulis, cuma sekali dua kali tersebut dalam buku harianku. 

Bicara tentang film tak luput dari background music-nya, dan film ini punya musik yang bagus-bagus. Tapi memang sih kalau film-film Anime Jepang, Drama Jepang dan Korea, musiknya bagus-bagus. Mereka itu menggarapnya dengan sangat serius. Musik punya peranan penting dalam sebuah film. Eh salah! ku RALAT! musik adalah hal PENTING karena dia juga background music kehidupan kita. Pernah khan merasa kita jala dan melangkah, atau melakukan sesuatu dan merasa seperti ada musik yang melatari itu semua. Terlebih kalau musik-musiknya sedih dan nada minor semua =) 

okay, kita mulai:

Tentang Malaikat Pencabut Nyawa

Dalam film ini, Grim Reaper, pencabut nyawanya dimainkan oleh Lee Dong Wook, sebagai tokoh yang kusukai. Perannya sebagai Malaikat Maut sangat unik, memberikan gambaran yang berbeda dengan yang kita pahami seperti apa tugas yang tidak terbayangkan, apakah seperti saat kita menginjak semut, mencabut nyawa saat itu dan selesai? Jangan terbawa suasana dan emosi dulu, bukan meremehkan, tapi mengajak kita mengenali pemikiran seseorang, tentang Malaikat Maut yang mereka bayangkan (pemikiran penulis ceritanya). Jadi begini, Wan Yeo atau 'Lee Dong Wook' ini saat ada yang meninggal, dia akan datang di dekat mereka, kemudian menanyakan identitasnya, lebih tepatnya mengkonfirmasi, jika sudah terkonfirmasi, orang  yang meninggal itu akan ikut dengannya untuk diceritakan kisahnya mengapa bisa meninggal dan apakah yang terjadi selanjutnya. Kemudian mereka akan disuguhkan dengan secangkir teh, yang bisa menghapus segala kenangan saat hidup, agar kelak, hidup kembali, lupa dengan kehidupan masa lalunya. Tapi ada juga yang tidak disuguhi minum teh sebagai hukuman agar dia lahir kembali dan mengingat dosa yang diperbuat dan jika dalam kehidupan selanjutnya masih saja belum taubat akan diberikan 4 kali kehidupan, jika masih belum nggenah  maka tidak akan bertemu dengan sang Pencipta dan menyatu bersamaNya, tapi akan masuk neraka, selamanya! 
Ketika seseorang disuguhi teh oleh Malaikat Maut ini, bisa memilih untuk tidak meminumnya, tapi harus bisa mengatasi memori kehidupan di masa lalunya, yang mungkin bisa menyakitkan dan menyedihkan. Maka itu ada istilah Past Life Regression, saat seseorang ingat dengan kenangan kehidupan masa lalu. Seperti cuplikan di atas: "You have to remember all the bad deeds you did!", saat itu Malaikat Maut tidak menyuguhkan teh kepada seorang pria yang bejat, yang pernah melakukan tabrak lari beberapa kali. Kemudian lelaki itu mohon ampun agar diberikan teh agar tidak lahir kembali dengan kenangan buruk, tapi jawabnya: "Itu bukan wewenangku. Boss ku yang punya kuasa. Dan dia sangat temperamental" ... sebenarnya ini cuma guyonan  aja cuma menggambarkan bahwa itu diluar kuasa dia dan cuma Dia yang punya kuasa, tapi jangan usik Dia, 

Aneh tapi Cantik

Ada dalam dialognya, kalau tokoh utama, Sang Goblin yang dimainkan oleh Gong Yoo digambarkan sebagai sosok Aneh tapi Cantik -- sama halnya dengan filmnya. Dibayangan awal kukira Goblin itu hijau tapi ini mengapa jadi putih abu-abu dan muncul saat Hujan dan romantis. Ha ha ha ha. Keseluruhan cerita drama ini tentang Kematian, tapi dikemas menjadi tidak mengerikan, meski pilu ya. Ini Drama Korea pertama yang temanya gelap, melankolis, fairy-tale, spiritualnya tinggi dan tidak tuntas! Karena sampai sekarang meski sudah lihat dua kali, masih suka lihat lagi. Seperti masih ada yang harus disimpan, apakah itu foto-foto Dong Wook atau kata-katanya yang nempel di kepala, dan sesekali bikin nyengsek seperti: "Dalam kamus Malaikat Maut, luput dari kematian itu, bukan keajaiban seperti yang sering dikatakan manusia, tapi merupakan tugas yang belum selesai karena rohnya tersesat dan masih harus diselesaikan" ... memang Kim Eun Sook (penulis ceritanya) top! Kalau aku ceritakan semuanya nanti nonton filmnya jadi kurang kaget, jadi aku petik sedikit-sedikit saja. 



Lihat filmnya di Youtube kalau masih beruntung belum di delete, ada 16 episode saja kok ... tidak panjang. 



Manusia Mati Beberapa Kali

Pertama, ku bukan mau mainan tafsir, cuma saat lihat film GOBLIN ini, ku jadi ingat dengan ayat dalam Kitab Suci tentang manusia mati beberapa kali. Kalau di Al-Quran, disebut, manusia mati dua kali. Di film Goblin ini, tersebut bahwa manusia mati 4 kali. Aku lupa di episode berapa. Tapi seperti ini kata-katanya (ku ambil dalam kolom terjemahan di filmnya): "Humans have four lives: a life of planting seeds, a life of watering the seeds, a life of harvesting and a life of cherishing the harvest." 

Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنَادَوْنَ لَمَقْتُ اللَّهِ أَكْبَرُ مِنْ مَقْتِكُمْ أَنْفُسَكُمْ إِذْ تُدْعَوْنَ إِلَى الْإِيمَانِ فَتَكْفُرُونَ, قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat): “Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman lalu kamu kafir”. Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” (QS. Al Mu’min [40]: 11)
dan ... ayat ini serupa dengan ayat,
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” (QS. Al Baqarah [2]: 28)

Setelah baca ayat di atas, balik baca ini: 
"Humans have four lives: a life of planting seeds, a life of watering the seeds, a life of harvesting and a life of cherishing the harvest." 


Ku engga mau bahas masalah definisi KAFIR di sini yah, karena KUFUR Nikmat itu juga kafir. Jadi pakai ini saja kalau sedang bahas tema kafir. Biar tentram. 


Aku inget di episode terakhir film ini, kalau tidak salah ada orang yang sudah berkali-kali reinkarnasi dan menyelesaikan tugasnya dengan baik dan akhirnya naik tangga dan menjalani kehidupan yang menyenangkan bersamaNya. Okay apakah itu masuk surga atau berada di sisiNya, menyatu dengan Nya atau apa sajalah nama dan konsepnya dalam dunia spiritual dan agama, tapi intinya, manusia memang punya gambaran akan kehidupan masa lalu demi masa depan. Apa aku sedang promosi konsep Reinkarnasi, Tidak, sama sekali tidak. Buat yang mau percaya, silakan. Buat yang tidak, juga tak mengapa. Kira berageman itu khan jalan sendiri-sendiri dengan pilihan jalan kita masing-masing. 

Jadi, kalau dalam film ini, ketika manusia mati untuk pertama kalinya, maka ia akan punya 3 kali kesempatan.  Jika menggunakan kesempatan dalam kebaikan, ia akan lahir lagi dengan tugasnya selanjutnya hingga agar kematian yang terakhir bisa benar-benar berpulang. Aku tidak akan ngobrol tentang Reinkarnasi dalam Islam. Itu hal yang tidak usah dibahas berkali-kali. Googling aja tentang hal itu sudah banyak dibahas, tapi kalau perasaan ku tentang Reinkarnasi mungkin engga banyak yang membahas. Hahaha .. siapa pula yang mau membahas. Eh tapi aku punya kisah tentang itu. Aku pernah menuliskannya dulu di Multiply, ntah hilang kemana sekarang, filenya luput tidak kusimpan dan Multiply sudah tidak ada lagi. 

Belum lama aku menemukan sebuah gambar, yang membuatku teringat akan kisah pengalaman regresi masa laluku. Aku menuliskannya di sini: Pengalaman Regresi Masa Lalu (Naik Ayunan di Atas Kolam) dan ada beberapa lagi kisah masa lalu ku cuma belum tega aja membaginya di sini lagi. Mungkin nanti jika nemu BGM (background music) yang bagus, tulisan akan lahir mengalir dengan sendirinya :) 


Jumat, 03 Februari 2017

Ketika (Anak kecil yang ngeLucid) =)



Pagi-pagi kalau bangun tidur, aku musti tanya 'Suhaila mimpi apa tadi malam?' (((please jangan ditanya mengapa bangun tidur engga baca doa atau sholat dulu? karena engga kuceritakan saja. lagi mau fokus dunia mimpi))). Dia mulai sadar mimpi sejak umur 4 tahun, saat mulai paham kalau tidur itu mendapatkan pengalaman yang berbeda dengan kehidupan saat tidak tidur. Dia awal dulu pernah cerita main di sebuah rumah, tapi bukan rumah ini cuma ada keluarga lengkap di situ. Tapi aneh, kata dia, kalau rumahnya kok beda ya? Dia juga bilang pas bangun, sudah ga ada rumahnya. Saat itu baru kujelaskan tentang: Mimpi. 'Ya, itu namanya mimpi. Jadi suhaila bisa jalan-jalan dan main di dunia mimpi ... saat Suhaila tidur.'

Lambat laun dia tanpa ditanya pun langsung cerita semalam mimpi ini dan itu. Tema besarnya antara: mimpi indah dan mimpi buruk. Pernah beberapa kali lucid, seperti tadi malam, dia mendapati Lucid Dream, dia bilang kalau dia tengah berpetualang dengan teman-teman sekolahnya, dan saat itu ada sebuah kejadian sebuah benda masuk ke dalam ember yang besar, anak-anak yang lain kesusahan mau ambil. 'Engga ada tools', kata dia. 'Trus aku harus berpikir pakai apa ambilnya, tiba-tiba ada tools-nya mickey mouse dan ada alat buat ambil bendanya. akhirnya bisa.'

Lucid! 

Dunia lucid merupakan dunia dimana mimpi bisa kita kontrol. Panjang dunia itu ya sepanjang kita bisa mengatasi kesulitan saat berada dalam mimpi. Lucid dream adalah sadar bahwa kita berada dalam mimpi, dan untuk bisa sampai ke sana butuh tahapan-tahapan; kita tidak langsung  berada di kemampuan untuk sadar kalau kita sedang mimpi, tapi mulai mengalami kemampuan bisa mengatasi kesulitan yang dihadapi dalam mimpi. Lamalama kita akan sadar bahwa kalau kita berada dalam dunia mimpi dan mulailah bereksperimen macam-macam. 

Cara untuk mulai mengelola Lucid Dream diantaranya:

 Menulis buku mimpi

Nah, karena Suhaila(6 tahun) masih belum lancar baca dan tulis (plz don't judge her ya. dia tengah berusaha untuk belajar menulis dan membaca he he he) maka aku membantunya mencatat jurnal mimpi dan buku harian dia. Ruang belajarku dan anak-anak berada dalam kamar, jadi ketika fresh baru bangun tidur, suka aku pijat-pijat jemari kaki biar rilex sambil kutanya pelan-pelan, 'semalam mimpi apa?' nanti dia akan cerita dengan segala mood yang ada. Yang penting, mimpi sudah ku'pancing' dan kusimpan dalam buku sesaat setelah selesai dia cerita. 

Memberikan afirmasi positif saat mau tidur

Biasa kalau mau tidur habis doa itu kadang kukasih obrolan, kalau nanti mimpinya engga enak, jangan takut, bisa diubah kok sesuai yang Suhaila mau. Ini kalau istilah kerennya: 'Aku sadar kalau aku bermimpi' dulu umur 4 atau 5 tahun masih belum paham arti kata 'Sadar' dan penggunaannya. Nah sejak umur 6 tahun ini mulai dikenalkan arti kata 'sadar' setidaknya saat kubilang: 'Aku sadar kalau aku bermimpi' dia sudah paham maksudnya. Hasilnya, ya dia sering cerita kalau dia tahu itu mimpi tapi sering kali cerita: 'engga bisa keluar dari mimpinya, uma!' Ha Ha Ha ... serem juga ceritanya. 
Sebagai tambahan, kalau saat dia terlelap di satu jam awal dia pejam mata, suka aku kasih afirmasi: 'Jadi lebih tenang, jangan mudah marah, jangan mudah sedih dan sakit hati ya.' Soalnya akhir-akhir ini dia dan teman-temannya mulai saling menularkan gejolak jiwa mudah tersinggung, marah, sakit hati dan sedih. Ha ha Ha ha .... darimana ku tahu? ya Suhaila suka cerita saat di sekolah ada beberapa teman yang kadang suka nangis, marah, sedih saat bermain, bersendau-gurau atau saat gurunya nge-jokes. Ku melihatnya semacam tidak oke kalau 'moody'nya berlebihan. Ini baru berjalan 3 minggu treatmentnya semoga berhasil. Tapi sadar kalau ini bukan hal yang mengerikan, namanya juga anak-anak. Kita aja yang dewasa sampai umur 50 tahun lebih aja masih susah kontrol suasana hati khan? ☺


Minggu, 31 Januari 2016

baca tulis

Kadang bingung jika suatu saat mendapati di sebuah tempat yang tidak ada buku sama sekali atau terlupa membawa buku di dalam tas karena harus berlari-lari untuk tepat waktu mentaati jadwal harian.
mau baca apa kalau sudah begitu.
larinya ke: menulis!
kalau ga baca ya tulis. Semua itu kegiatan yang menyenangkan. sederhana, tapi bisa bikin bahagia.
apalagi saat hunting buku! Wah!

Sabtu, 09 Januari 2016

Berada di sebuah anjungan kapal dan ternyata Terrarium itu selama ini adalah .... !!!

Saat itu gelap sekali rupanya salah seorang anjungan kapal mematikan semua lampu dan hanya lampu layar saja yang menyala. Aku terbangun karena gelap memanggil. Saat kuhendak menyalakan lampu seseorang melarangku. Rupanya sedang ada pertemuan. Mereka hendak menyerang pemberontak dan menyelamatkan penduduk di sektor A. Komandan pertama melarangku untuk bercerita ke komandan kedua yang saat ini tengah bertugas di belakang. Pintu anjungan utama di tutup dan semua siap untuk melesat dengan pesawat luar angkasa kecil yang berjumlah 5 buah yang sudah siap ditunggangi; mereka hanya menunggu perintah komandan Pertama. 

Aku duduk tenang dengan kedua anakku, Haila dan Habiba. Tak lama kemudian terdengar sebuah sirine berbunyi. Sepertinya mereka harus segera melesat pergi tapi satu orang bermasalah karena ada pembantu komandan Kedua yang tiba-tiba masuk ke anjungan dan 'bang bang bang!' seorang petugas keamanan perempuan menembak pembantu komandan Kedua dan langsung mereka menjalankan rencana semula seolah tak ada yang terjadi. Semua orang pergi, tinggallah aku sendiri di anjungan bersama anak-anakku. 

... di hadapanku ada sebuah Terrarium berbetuk botol silinder dan berisi bunga bakung warna putih, segar dan merekah. Sebelum komandan pergi dia berpesan untuk merawatnya. tak lama kemudian komandan Kedua masuk anjungan pertama dan menggeledah semua ruangan dan akhirnya mendapatiku bertiga dengan anak-anakku. Aku tenang sekali saat itu. Aku merasa kalau aku takut nanti anak-anakku akan merasa gusar dan rewel. Mereka nampak tenang menikmati sarapan saat Komandan kedua mencecarku denagn banyak pertanyaan. 

- kemana yang lain? 
+ tidak tahu
- sejak kapan anjungan kosong?
+ tidak tahu karena aku sibuk merawat Terrarium2 di balkon

komandan Kedua marah luar biasa dan mengancam akan merusak Terrarium2 itu. Aku pun diam saja. 

- dengan apa kalian komunikasi?
+ dengan layar utama

aku berbohong. aku berkomunikasi dengan Komandan pertama dengan sebuah Terrarium -- bunga bakung warna putih. 

layar utama dirusak oleh Komandan Kedua. mereka memutuskan semua alat komunnikasi dan anjungan mati total gelap gulita dan hanya sinar matahari yang menerangi. Komandan kedua keluar anjungan dan aku merasa lega. kemudian aku lihat bunga Bakung putih dalam Terrarium yang tertutup rapat itu seperti bergerak tertiup angin. Komandan pertama selamat. Ahhh syukurlah. Aku menahan air mata sambil berbicara (dalam hati) kalau Komandan Kedua sudah mengetahui ini semua dan anjungan utama mati total tidak ada supply tenaga dan aku bersama 2 orang anakku tertahan di sini. bisa jadi untuk selamanya. 

tak lama kemudian Bunga bakung itu berwarna sangat terang menyilaukan. diikuti dengan sinar yang kemilau dari Balkon. ternyata Terrarium yang kurawat itu sebuah gate, dari situ Komandan pertama dan kawan-kawan seperjuangannya muncul dan menjemputku dan anak-anakku. 

dan aku terbangun. 
sekian mimpi tanggal 9 januari 2016 ini luar biasa. 
terimakasih  dan maaf belepotan nulisnya
takut diserang lupa hahahaha .... 

Senin, 10 Juni 2013

Toddlers are truly the coolest people I know



They don't care what you think. They don't care how they look. 
They aren't ashamed of their bodies or the silly way they dance or their wild hair or mismatched shoes. They marvel at the wonder of bugs and all living creatures. 
Their innocence is truly something to behold.
 If adults had the persistence that they possess, can you imagine the possibilities?! 
They are full energy, independence and so. much. love.

Can you imagine what a boring world this place would be if we didn't have them? :-)


takenfrom: The Skeptical Mother

Rabu, 29 Mei 2013

Kadang kesunyian ...

Zelikha: Musa ....
Musa: yaa
Zelikha: when u met Initial A , hows yer feelin?
Musa: kinda weird
Zelikha: really?
Musa: coz i love his lover
Musa: :)
Zelikha: hihi ...
Musa: when u meet him how u feel?
Zelikha: biasa aja
Zelikha: i dont pay attention much on him ...
Zelikha: my eyes on you
Musa: really..?
Musa: :) hihi


Dia berlari kecil mengejar waktu yang sempit di antara segala deadline pekerjaan. Sekedar sapaan cukup buatnya. Tapi yang sekedar itu membuatnya lupa kalau dia sudah ada yang punya. Kalau dia milikku. Perlahan dia melepas ikatan perak di jarinya dan menggantungnya di sebuah paku di kamarnya. Dengan harapan kalau dia keluar masuk kamar, dia setidaknya masih ingat kalau dia sudah ada yang punya. Tapi tidak, lambat laun dia keluar masuk kamar tanpa merasa bahwa dia menggantung sesuatu di sebuah paku di pintunya. Hingga kemudian hari paku itu terlepas beserta perak yang melingkar di jarinya. Kini, tak ada sesuatu yang melingkar di paku atau jari manisnya.

Tapi ku tidak pernah menanyakan hal itu. Paku dan perak yang melingkarinya tidak pernah menjadi bahasan. Dia mulai membahas Doa Malaikat Jibril – sebuah bahasan yang tidak pernah kita bahas sebelumnya. Dia bertanya apakah aku tahu mengenai doa itu. Dan ketika kujawab tidak, ‘dia melihat kembali ke telepon genggamnya.’ Kadang kesunyian adalah jawaban terbaik atas sebuah percakapan. Bagaimana tidak, aku tak pernah  berurusan dengan Doa Malaikat Jibril. Tapi … tunggu dulu … Ku teringat sesuatu. Pernah suatu hari aku dan dia pergi menjumpai seseorang, sebut saja namanya pak Kaji. Dia memberikan doa Malaikat Izrail padaku. Dia bilang, ‘dibaca selepas sembahyang, 9 kali dihadapan secawan air, minum airnya dan untuk wudhu, setiap hari. Agar terlepas apa yang terjadi oleh orang-orang sebelummu tidak menimpa dirimu. Energimu kuat, kamu pasti bisa.’ Tapi aku tidak membaca Doa Malaikat Izrail. Apalagi mengenal doa Malaikat Jibril. Ini salahku.

Salahku juga, saat kutemukan bau busuk dari sakunya, sebuah nama dan alamat; aku menyerah dan mengalah. Tidak bisa kupercaya, di tahun yang sama saat aku tidur di meja belajarnya dan dia tidur di sofaku, ditahun yang sama pula dia menitipkan hatinya ke orang lain.

‘Kau tidak suka sofa yang biasa menemanimu nonton film?’
‘ …. ’ dia terdiam
‘Lantas kenapa kau bilang kau cinta mati pada sofa itu? Kenapa? Kita sekarat aja belum kenapa kau bilang cinta sampai mati? Sekarang, hatiku yang mati.’

Matinya sebuah hati adalah saat kita mengira kita benar-benar bahagia dan dunia milik kita berdua; padahal milik mereka berdua. Kadang kesunyian adalah jawaban terbaik saat hati mati.

Dan kembalilah aku ke Musa – kesunyianku. 

Minggu, 26 Mei 2013

:: Gaia Theory and Catastrophes :: (AidaVyasa, 2007)

Behind the Catastrophes: A Gaian Perspective


Father Father Father help us. Send some guidance from above. Cause people got me questioning. Where is the love?

-“Where is the love?” Song lyrics  By The Black Eyed Pea-

Introduction
            As we gather in the discussion room talking about religions, ethics, disasters, and its hidden connection, many people out there live in a stressful conditions due to catastrophes and other calamities. I remember the song from The Black Eyed Pea, “What’s wrong with the world mama? People living like aint got no mamas … Nations dropping bombs, chemical gases filling lungs of little ones, with ongoing suffers, the wars going on but the reasons undercover, … where’s the love y’all?” It is kind of questions we questioning many times in many places in this wide world. Let us say the nearest disasters such as the 2004 Indian Ocean earthquake and tsunami, the 2006 Yogyakarta earthquake, flooding in Sumatra, the ongoing mud flows in Sidoarjo, East Java, and many conflicts in Indonesia nowadays. Not just in Indonesia, but many places in the world. The ecological crises we are facing now are happening global – if not universal. Moreover, the crises are so huge and not only science or technology but no single government/community would be able to solve them alone. Furthermore, there is a fact that religion has close relationship with environment, and it has their own language with difference system of theology, beliefs, ritual, and ethics. These are premises which had been agreed.  
In his new book, Menuai Bencana, Agus Mustafa questioned why disaster happened upon mankind? And as the list of disasters forced us to interpret the meaning of its coming, it never stops its running. People tend to question the just of God, the problem of evil, and the connection between.
“Kenapa bencana datang beruntun kepada kita? Apa salah kita? Apa dosa kita? Bukankah bangsa ini berpenduduk mayoritas umat Islam? Bukankah dasar Negara kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa? Bukankah di sini banyak orang pergi haji, yang setiap tahunnya tidak kurang dari 200 ribu orang?”[1]
Human started to think that God was behind the tsunami, or they blame themselves as a destructor of the Earth, or they think that it’s the way of how the nature works. John Campbell Nelson in his article, Religion and Disaster, emphasized as a matter to human misery whether disaster came from natural causes, human error or political intrigue.[2] Hinduism and Buddhism had karma to explain unpleasant events, while monotheistic religions see things as blessing, punishment, vengeance, or call for repentance. Basically, both myth and religion had similarity in describing wrath and blessing as a form of an angered ancestors, gods, and spirits.
Furthermore, step by step such stories replaced by science and modernity and many events interpreted scientifically. In his book, Magic, Science, and Religion, Malinowski stated that myth and magic has been used as a way to knowing science and religion. For example in the case of earthquake, some myth will explain by the moving of giant animals beneath the earth which shaking the ground and earthquake happened. And for quite sometime after, it replaced by plate tectonics and the idea of judgment day.
By the end of his article, John Campbell Nelson gives comment, “May God bless the millions of survivors of disaster in Indonesia who may well feel they have been cursed”; and this may seem that there are no hidden connection between God, human and nature. In this paper, I will try to describe what catastrophes from Gaian perspective are. This writing has purpose: to interpret disaster, catastrophes, providing a Gaian framework within mankind – the survivors of disasters can seek meaning of unfortunate events they had. But at first, I will give a short explanation about the meaning of Gaia Hypothesis.

What is Gaia?
In popular culture, Gaia is known better in New Age community because this theory is sound so romantic. Many still take the live Earth concept of Gaia as a poetic or spiritual metaphor rather than as a scientific reality. When it was popularized in the late 1970s the response was much varied and interesting. Gaia attracted a few scientific supporters, and many opponents. Gaia drew quasi-religious devotion from some environmentalist and from prophets of New Age ideas. It has been attacked not only for being unscientific, but as antihuman polemics, green politics, industrial apologetics, and even as non-Christian ecological Satanism, a religious cult or a new way of knowing.[3] We can see the description in animation movie, Final Fantasy: the Spirit Within, where this theory has deep impact in the world of science fiction also. And of course a little bit of world religion, especially for indigenous religion and paganism. In this animation movie, there was a nice conversation which described how two scientists see this hypothesis.  
+ “I mean ….”
- “Do you mean the spirit of the Earth?”
+ “Yes, spirit of the Earth.”
- “This is crazy, doctor. With respect, are you coming here to talk about this Gaia theory? And saying that this planet is alive? It has spirit? It’s not fairytale. I’m sorry but we have no time to …”
+ “It’s not just fairytale. This is reality …”
- “Oh …so if I pointed a gun to the Earth and shoot, then I’m not just making hole the Earth, but I kill it also?”
* “Dr. Sid,The Gaia Theory has not proven yet”
And the movie continue with Dr. Sid’s explanation about energy related with Gaia theory.

Gaia is both a religious and a scientific concept. Theology is also a science, but if it is to operate by the same rules as the rest of science, there is no place for creeds or dogma. Lovelock emphasized that theology should not state God’s existence. Like the way he said: ‘What would the universe be like without God?’[4] We will discuss more about God and Gaia later when we discuss about more deep about Gaian perspective over disasters and catastrophes.
Actually, Gaia or Gea (the Roman form), was an earlier name for our planet than Earth. In Greek, our planet has always been called Gaia or Ge, which we see in English such as geology, geometry, and geography. The story of Gaia's dance begins with an image of swirling mist in the black nothingness called Chaos by the ancient. In the myth it is the dancing goddess Gaia, swathed in white veils as she whirls through the darkness. As she becomes visible and her dance grows ever more lively, her body forms itself into mountains and valleys; then sweat pours from her to pool into seas, and finally her flying arms stir up a windy sky she calls Ouranos – stil the Greek word for sky –which she wraps around herself as protector and mate.[5] This is the myth.
In ancient times, belief in a living Earth is the same with belief in living cosmos. Heaven and Earth were close and part of the same body. The invention of telescope and Big Bang had change mankind’s point of view in seeing Universe since the place of God hides behind the magnificent of the theory.[6]
Gaia theory was created by scientist and chemist, Sir James Lovelock, who developed his theories in the 1960s before formally publishing them, first in the New Scientist (February 13th, 1975) and then in the 1979 book, Quest for Gaia. He hypothesized that the living matter of the planet functioned like a single organism and named this self-regulating living system after the Greek goddess, Gaia, using a suggestion of novelist William Golding.[7]
According to Lovelock, Gaia is a complex entity involving the Earth's biosphere, atmosphere, oceans, and soil. He emphasized the importance to make conditions on the planet more hospitable. Lovelock suggested that life on Earth provides a cybernetic, homeostatic feedback system operated automatically and unconsciously by the biota, leading to broad stabilization of global temperature and chemical composition.[8] Here we can see that everything in the Earth is working automatically because of the Earth has her own will to live.
The concept of Gaia is entirely linked with the concept of life. To understand what Gaia is, therefore, we need to explore the concept of life. Lovelock stated that we have lost the instinctive understanding of what life is and of our place within Gaia. He illustrated that life are much in the stage of the drunkard’s walk where it is more like a self-organizing Universe. Gaia is the largest ecosystem. When Lovelock come in his reading about What is Life? By Schrodinger, he realized that planetary life was revealed by the contrast between the near-equilibrium state of the atmosphere of a dead planet and the exuberant disequilibrium of the Earth.[9] To question ‘What is life?’ is certainly needed. Gaia is the largest manifestation of life which made up from four components:[10]
  1. Living organisms that grow vigorously, exploiting any environmental opportunities that open
  2. Organisms that are subject to the rules of Darwinian natural selection: the species of organisms that leave the most progeny survive.
  3. Organisms that affect their physical and chemical environment. Thus animal change the atmosphere by breathing. Plant and alga do the reverse.
  4. The existence of constraints or bounds that establish the limits of life.

Lovelock stressed that Gaia theory has a planetary perspective. The most important is the health of the planet rather than some individual species of organisms. He stated, “The health of the earth is most threatened by major changes in natural ecosystems. Agriculture, forestry, and to a lesser extent fishing are seen as the most serious sources of this kind of damage with the increase of the greenhouse gases, carbon dioxide, methane, and several others.”[11]
In one of the chapter of this book, The Ages of Gaia, James Lovelock explained the relationship of God and Gaia – it was merely more talking about himself rather than the subjects – the Gaia Hypothesis.[12]

In his book, The Ages of Gaia, Lovelock stated:
“I am scientist and do not have faith, but neither am I the counterpart of those with faith, an atheist … it takes a lot of hubris to imagine that we can ever reach the limits of our own intelligence; to think that we will ever be able to explain everything about the universe is absurd. For these reasons I am equally discomfort by religious faith and scientific atheism.”[13]

Again he stated:  
“I am happy with the thought that the Universe has properties that make the emergence of life and Gaia inevitable. But I react to the assertion that it was created with this purpose. It might have been; but how the universe and life began are ineffable questions.”[14]

The concept of Earth in Gaian perspective or James Lovelock idea is that Gaia is manageable. He stated that there is no other life in this Solar System, and the nearest star is utterly remote. And to know about the concept is to know about the maker of the concept. Lovelock stated again that in his belief, God rests at the stage of a positive agnosticism.
Gaia can be both spiritual and scientific and deeply satisfying. Gaia is a sentient being, a surrogate God. As a scientist, Lovelock believes that Nature is objective and not predetermined.[15] Here we can see how scientific Gaia is, though some scientist still doubt about it.


Gaian Perspective seeing Catastrophes
Ruether asked such question in her ‘Introduction’ page of her book, God and Gaia: “Are Gaia – the living and sacred earth, and God – the monotheistic deity of the biblical traditions, on speaking terms with each other?”[16] The term Gaia has caught on among those seeking a new ecological spirituality as a religious vision. Gaia is seen as a personified being, an immanent divinity.[17] If we consider Earth as living organism, it means that we consider Earth as God’s creation and she has their own destiny, fate and wills; and of course she ‘worships’ God the Creator also. Then how come mankind – in the name of religion, myth and technology rape her for the sake of their own. If it is the situation, then it has already described in the animation movie, Final Fantasy: the Spirit Within, if a person shoot the Earth with deadly weapon, it will not only making holes, but it also kill it. This illustration can be use to describe the reason why many catastrophes happened.
The catastrophes consist of: population and poverty, food producing for human population, the problem of energy, climate and pollution, forest destructions extinction, and war. From here we see evil things happened to the Earth. The myth has seen world destruction as divine judgment on human evil. Here we can divide that there are two disasters: natural disaster and unnatural one. Earthquakes consider as natural event which happen because the mountains, the land, the Earth is moving. While floods, global warming, dramatically climate change consider as unnatural even which happened because of human. Mankind as the ruler of the Earth has involves in many unnatural disasters in the Earth such as the upcoming issue: global warming. And Gaia sees this as thing to be concerned of by giving positive energy to the Earth and stop the Global Warming by stop doing things that can increase the effect of the green house gases.
Not so many scientists in Indonesia ever speak about Gaia in a scientific forum, though Gaia Hypothesis knows from Capra’s book, The Web of Life which has been translated into Indonesian. Capra in his book speaks about the benefit of knowing Gaia Theory related to understanding about disaster. The theory brought us to understand about the connection between the living planet, the plants, microorganism, animals, rocks, seas, atmosphere, and many other things. For example as it said in Capra’s book that Volcano eruption spread many CO2 and this is very hot. Plants and animal neutralized the air and this can be seen that there is live from the death and lively.
Lovelock idea about pain and suffering:
Third World, and our near-obscene obsession with death, suffering, and pain as if these were evil in themselves – these thoughts divert the mind from our gross and excessive domination of the natural world. Poverty and suffering are not sent; they are the consequences of what we do. Pain and death are normal and natural; we could not long survive without them.[18]

Very interesting, Lovelock mention about ‘catastrophe theory’ or ‘strange attractors’ related with the interest of pathology, mathematic, and religion. In mathematic, attractors are a stable equilibrium state, such as a point at the bottom of a smooth bowl where a ball will always come to rest. Attractors can be lines, planes, or solids as well as points, and are the places where systems tend to settle down to rest. Strange attractors are chaotic regions of fractional dimensions that act like black holes, drawing the solutions of equations to their unknown and singular domains. Phenomena of the natural world – such as weather, disease, and ecosystem failures – are characterized by the presence of these strange attractors in the clockwork of their mathematics, lurking like time bombs as harbingers of instability, cyclical fluctuations, and just plain chaos.[19]
Could it be that pollution is natural? If by pollution we mean the dumping of waste matter there is indeed ample evidence that pollution is as natural to Gaia as is breathing to ourselves and most other animals. I have already referred to what might have been the greatest air pollution disaster to affect our planet, which took place about two aeons ago with the emergence of oxygen as athmospheric gas.[20]
Ancient Near Eastern societies faced many disasters. One particularly great flood that destroyed everything was long remembered in the ancient Near East. The earliest version of this flood story goes back to Sumerian times (c. 3000 B.C.E), preserved in a fragment of a tablet from the library at the city of Nippur. After the great flood, here come the solution. After, for seven days and seven night, the flood had swept over the land, and the huge boat had been tossed about by the windstorms on the great waters, Utu (the sun) came forth, who sheds light on heaven and earth. Ziusudra opened a window on the huge boat. The hero Utu brought his rays into the giant boat. Although the fragmentary nature of the text doesn’t make clear what Ziusudra put in the boat, but he becomes the one through whom human life begins after huge flood.[21]

This kind of flood story has been known in many religions and cultures. And as Ruether stated: “In these stories of yearly drought and death of vegetation, destruction and new creation, death and resurrection, are two sides of the same story. World destruction, through floods, drought, and trampling armies, becomes punishment by God, retribution for failure to obey the laws of one God, who controls nature and history from above.[22]

Our Ecological Fate
In the Gaia Hypothesis, humanity is seen as part of the total, ecological life of the planet and the complex meta-ecological awareness organism is affected by everything living in it. There are strong connection between the creator, the Earth and mankind and all creatures and creation within the Earth. So, no wonder if Gaian people feels like they become one with the Earth and felt hurts when other people hurts the Earth. We can see green people like this in green community such as Gaia Movement or GreenPeace.
Technology, power, economy, science, religion, all human constructions, always wills the good but does the evil. We have so many examples for this. For mankind nowadays, nothing is scared and everything will be consumed. When I saw a documentary film, entitled, Jesus Camp, I was so surprise when Evangelical Christianity stated that it is allowed to consume everything lies on Earth without being scared to have global warming or flood because this world is created and should be consumed until it dropped. And this is wrong because they use religion to defend their action to ruin the Planet Earth, while some other try to prevent the Earth from destruction.
In our social and cultural construction of ‘nature’, humans from the outset of hunting and agriculture, have modified and changed the earth systems themselves, reshaping plants, animals, air, water, and soil. Nature, in the sense of the earth system apart from human influence, is in its own constant process of adaptation and change. Human reshaping of non-human nature is itself a phase of this process of continues adaptation.[23]
“Why have narratives of world destruction played such a large part in religious consciousness? What role does apocalyptic narrative play today, as human face the destructive possibilities of their own power on an unprecedented scale?[24]
Scientific culture no longer has a God that is independent of nature. It cannot expect life force unconnected with the biosphere to intervene and renovate the earth after we have destroyed it. Nor is there another world in the sky to which we can escape. We have no home outside the earth. And so our destruction of this home is permanent destruction of ourselves as well.
Science, philosophy and religion can be a source of environmental ethics. Eastern religions have frequently expressed the goal of harmony with nature. Taoism in China portrays the world as an organic, interconnected system. Every particular being is a manifestation of the Tao, where to achieve a harmonious relationship to the natural world, we must respect it and adjust to its demands.[25]
But it is interesting when Saint Francis expressed eloquently a deep love of the natural world and a sense if union with it. He saw nature as a living whole and all creatures as objects of God’s love. Saint Francis has continued to appeal to the popular imagination, and the order that he founded has passed on both his respect for nature and his dedication to the poor.[26]

Conclusion
Is Earth okay now? Lovelock described that now Gaia is slowly taking revenge unless mankind changes their attitude toward her. And how is that? By giving positive energies to her. The climate change is already insoluble, and Earth is getting weak. The main question which lies between nature, science, and disaster is:  Who was behind the catastrophes? God or humanity? Who was really behind this tragedy? And the answer of the question will answer the question of was it completely ‘natural’ disaster or the way of God tickling human’s behavior? And now, another question: is it social construction? But this paper is not going to answer this question, rather to see the question from Gaian perspective which consider Earth as living organism. And Gaian sees catastrophes as both normal and abnormal things which need mankind to understand this by doing good deed to the Earth.


Conclusion
Barbour, Ian G.. 1993. Ethics in an Age of Technology: The Glifford Lectures 1989-1991 Volume 2. New York: Harper San Francisco
Lovelock, James. 1988. The Ages of Gaia: A Biography of our living earth. New York: W.W. Norton and Company
Lovelock, James. 2000. Gaia: A new Look at life on Earth. (New York: Oxford University Press)
Mustafa, Agus. 2006. Menuai Bencana. Surabaya:Padma.
Ruether, Rosemary Radgord. 1992. God and Gaia: An Ecofeminist Theology of Earth Healing. New York: Harper San Francisco
Sahtouris, Elisabet. Earth Dance: Living Systems in Evolution. copyright © 1999 http://www.ratical.org/LifeWeb/Erthdnce/erthdnce.html last visited (21 January 2003).
Turney, John. 2003. Lovelock and Gaia: Signs of Life. New York: Colombia University Press








[1] Agus Mustofa. 2006. Menuai Bencana. (Surabaya: Padma)., pp. 12.
[2] John Campbell-Nelson, “Religion and Disaster” in ICRS-Yogya Conference: The Problem and Promise of Inter-Religious Studies (a paper), p. 2.
[3] John Turney. 2003. Lovelock and Gaia: Signs of Life (New York: Colombia University Press)., pp. 4.
[4] James Lovelock. 1988. The Ages of Gaia: A Biography of our living earth. New York: W.W. Norton and Company., pp. 194.
[5] Elisabet Sahtouris. EARTHDANCE: Living Systems in Evolution. copyright © 1999 by Elisabet Sahtouris. http://www.ratical.org/LifeWeb/Erthdnce/erthdnce.html (21 January 2003).
[6] James Lovelock. 1988. The Ages of Gaia: A Biography of our living earth. New York: W.W. Norton and Company., pp. 196.
[7] Wikipedia (February 11th, 2007)
[8] Wikipedia (February 11th, 2007)
[9] James Lovelock. 1988. The Ages of Gaia: A Biography of our living earth. New York: W.W. Norton and Company., pp. 202.
[10] Ibid., pp. 37-39.
[11] Ibid., pp. xix
[12] Ibid., pp. 191.
[13] Ibid., pp. 193.
[14] Ibid., pp. 193.
[15] Ibid., pp. 204-205.
[16] Rosemary Radgord Ruether. 1992. God and Gaia: An Ecofeminist Theology of Earth Healing. (New York: Harper San Francisco)., pp. 1
[17] Ibid., pp. 4
[18] James Lovelock. 1988. The Ages of Gaia: A Biography of our living earth. New York: W.W. Norton and Company., pp. 198.
[19] Ibid., pp. 206
[20] Ibid., pp. 101-102.
[21] Rosemary Radgord Ruether. 1992. God and Gaia: An Ecofeminist Theology of Earth Healing. (New York: Harper San Francisco)., pp. 61-62.
[22] Ibid., pp. 64
[23] Ibid., pp. 5-6.
[24] Ibid., pp. 61.
[25] Ian G. Barbour. 1993. Ethics in an Age of Technology: The Glifford Lectures 1989-1991 Volume 2 (New York: Harper San Francisco)., pp. 72.
[26] Ibid., pp. 75.