Minggu, 03 September 2017

Tidak banyak keributan kok

Tentang semua keributan yang ada di dunia ini. Kehidupan yang cuma sebentar ini apa mau dibuat ribut terus? Tentu tidak bukan? Ada banyak hal yang menyenangkan yang bisa dilakukan. Ada banyak cara untuk membahagiakan orang-orang di sekitar kita dan juga yang jauh dari kita -- selain dengan dana dan derma: yaitu mengirimkan doa, memberikan maaf secara diam-diam, atau sekedar merindukan dan mengharapkan agar mereka hidup sehat sejahtera dunia akherat.

Ketika kita mendengarkan isu yang besar dan mungkin dibesar-besarkan, kita tidak terdengar bahwa ada sosok kecil di dekat kita yang lirih memohon agar kita mau mendengarkannya. Sama seperti saat aku memakaikan kaos Save Palestine ke anakku. Dia paham aja tidak dengan Palestine atau bahkan saat aku memakaikannya kaos Hezbollah. Dia aja nanya, ‘Ini gambar apa ya, Uma?’ Aku mau menjelaskannya aja males loh. Padahal partai Hezbollah itu partai Fav-ku meski di Indonesia mereka tidak punya andil apa-apa, Cuma karena suka dengan cara mereka membantai teroris berkedok Islam dan antek-anteknya, jadi suka aja dan berharap kalau mereka tahu bahwa banyak orang Indonesia yang menjadi penggemarnya.



Manusia itu punya rentang hidup yang pendek di Planet Bumi ini, jadi untuk apa sibuk membenci, sementara waktu untuk berbagi kasih saja pendeknya bukan main. Sungguh 90 tahun itu waktu yang singkat, iya kalau umur kita nyampai 90 tahun. Aku aja maunya lebih, mungkin 145 tahun dengan fisik yang mandeg menua di umur 75 tahun; jadi berharap saat umur 145 tahun, fisikku masih seperti nenek-nenek umur 75 tahun. Mengapa? Karena hidup di Bumi itu menyenangkan loh sebenernya. Ya bukannya tidak mendamba Sorga atau takut mati. Tapi kalau cukup membahagiakan dengan segala kerumitannya yang ada, mengapa tidak boleh mencintai kehidupan di Bumi? Toh ini juga anugrah, dan bukan sebuah dosa, seperti yang digambarkan mite-mite kehidupan Adam dan Hawa yang turun dari sorga ke Bumi.

Jangan salah, dulu aku juga suka ribut akan hal kecil. Semua hal dianggap menjadi beban yang berat. Tapi lambat laun, aku kok merasa seperti sedang main drama. Bisa saja kok aku tidak suka dengan scriptnya dan kuubah saja sedemikian rupa sehingga aku menyukainya dengan membuang segala hal dramatis di dalamnya. Jadi ketika menghadapi masalah yang pelik, meski sempat jatuh, aku punya harapan dan bangun kembali; dan merasa bahwa kehidupan itu ya begini nih. Selalu ada hal yang diributkan, hanya saja apa kita mau ribut terus atau tidak itu tergantung pada kita kok.

Skala kecilnya adalah menghadapi anak yang tantrum. Anak kalau sudah tantrum waduh susah diajak bicara, ada anak yang nangis ga jelas, murung, cemberut, ngambek dan macam-macam polah tantrumnya. Kalau sudah gitu biasanya ku engga sabar dan ikutan ngomel, eh anaknya makin liar ga karuan. Akhirnya sampai pada sebuah titik sadar dimana sepertinya lebih enak kalau berjalan damai saja. Aku coba menurunkan emosi dan ego dan merendahkan suara, aku tanya baik-baik dan penuh penasaran:

‘Dik kamu maunya gimana?’
‘peluk uma’
‘Udah Cuma itu aja?’
‘iya’

Kita berdua berpelukan dan semuanya baik-baik saja. 

Di lain hari aku juga tanya hal yang sama ketika tantrum. Dia jawabnya, ‘Mau pukul uma’ dan waktu aku kasih tanganku buat dipukul, dia pukul juga tanganku, tapi habis itu kita pelukan. Tantrum pun kelar. Ternyata kalau salah satunya tidak ribut, itu meredam kekacauan. Tapi kalau dua belah pihak ribut dan jawab-jawaban ga selesai, ya sudah … perang panas dan perang dingin engga kelar-kelar. Baru nanti kalau sudah adem anaknya kita kasih penjelasan, ‘Sakit juga ya dipukul, lain kali nanti minta dipeluk erat-erat saja deh.’

Skala besarnya, kalian tarik-tarik saja sendiri ke konteks masing-masing.
Renungkan sendiri untuk apa sih keributan yang berdarah-darah ini ada? 
Demi Tuhan? Makhluknya aja engga suka perang. Apalagi Tuhan. Kalau seseorang percaya bahwa Tuhan itu di luar dirinya, ya mungkin saja beda dengan pandanganku. Pandanganku, Tuhan ada dalam diri setiap makhluknya, baik itu yang makhluk hidup ataupun yang 'tidak hidup' seperti bebatuan. 

Demi Waktu! Semoga kita semua diberi umur yang bermanfaat, dan saat kita meniup lilin ataupun saat merayakan ulang tahun dengan syukuran, kita selalu ingat bahwa kegiatan yang satu bukan merupakan vice versa kegiatan yang lain, sehingga kita akan melihat perbedaan itu bukan hal yang salah, tapi lebih merupakan variasi jalan lain menuju tujuan yang sama. [ ]


Wewangian dari alam mimpi pun bisa tersimpan dalam memori kita



Ramuan minyak Sacred Mountain aku sebar ke seluruh penjuru kamar dengan alat difuser. Harum bunga kenanga, lavender dan campuran antara sage dan luban membuat tidur nyenyak dan larutlah ku ke dalam alam lain. Aku sampai di sebuah rumahku; di alam mimpi, rumahku itu tersambung dengan rumah-rumah orang banyak. Terpisah hanya dengan sebuah pintu, dan ketika ingin ada yang dibicarakan kadang kita semua bertemu di ruang tamu dan berkumpulah kita. Tapi sebelum sampai ke rumahku, aku berada di sebuah tepi pantai. Pantainya sepi dan mendung. Aku sendirian di situ. Tidak ada yang istimewa memang dari cerita mimpiku, tapi ada satu hal yang kuingat pasti dari mimpiku, yaitu aku bisa merasakan desiran angin di pantai yang begitu nyata. Saat kakiku menginjak pasir pantai, dan saat wajahku tersapu dedaunan hutan sekitar pantai. Harum dedaunan itu masih samar tercium oleh hidungku, aku masih bisa mengingatnya. Aku berjalan perlahan-lahan di balik rimbun dedaunan yang mirip daun pisang sambil mengintip deburan ombak pantai. 

Aku tidak pernah pergi ke pantai sendirian. Terima kasih sudah menghantarkanku ke sana. Siapapun Anda yang bertugas membimbing manusia saat dia terlelap dalam mimpi. [ ]

Jumat, 01 September 2017

Sebuah rumah dalam mimpiku

Kemaren sore saat ngobrol sama anak-anak, terlintas suara hujan samar-samar. Rupanya anak kedua tidak sengaja menyalakan aplikasi suara hujan di smartphoneku. Rindu sekali dengan hujan. Bahkan ketika seorang taman lama bertanya apakah semalam hujan, aku tidak sadar menjawab: 'Iya semalam hujan'

Padahal semalam langit cerah. 


Aku rindu hujan. 

Padahal tidak benar-benar berpisah karena sesekali mendung lewat mendekat dan hinggap sebentar, meski tidak mengutus hujan turun. Tak mengapa. Hampir setiap malam, aku mampir rumah yang hujan selalu turun tapi tidak banjir karena memang itu fungsi rumah cuma menenangkanku. Saat lelah seharian dan kutidur, app Suara Hujan (Rain Sound) mulai nyala, aku pun lepas ke alam mimpi, dan mampirlah di rumah hujan, meski cuma sebentar sekedar meletakkan payung ke tempatnya dan duduk di tepian jendela yang basah -- beberapa menit saja.

Entah rumah siapa yang aku kunjungi, tapi sudah menjadi default kalau ku penat dalam tidur aku langsung menuju rumah itu meski kadang aku harus lewati sederetan adegan mimpi yang melelahkan dan bertele-tele. Ketika sampai di depan kompleks di mana rumah itu berada, aku langsung melesat, berlari cepat, berlomba dengan gangguan mimpi yang bakal membuatku terjaga. Aku buru-buru masuk, melempar sepatu dan ...

... seperti biasa, ruangan bernuansa hitam, putih, abu-abu dan minimalis menyambutku; kemudian sebuah kursi dan meja kecil menghadap jendela yang dihiasi guyuran air hujan. Saat melepas lelah dan duduk di kursi, aku berharap, 'Aku bisa di sini untuk beberapa hari saja'; dan harapan menguap, mimpiku lepas, aku pun terjaga.

--- 

Hahahaha ya sudah. Sudah pagi, mari bermain lagi (^_^)





Sabtu, 04 Maret 2017

Tulis semua rahasia dan mimpimu. Mimpi. Bukan cuma impian

Tadi pagi setelah nulis di buku mimpi, ngobrol-ngobrolah kita dengan Suhaila. Kuceritain tentang mimpiku semalam. Seru. Dia memang jadi penggemar pertama kalau aku cerita, apa saja. Hobi dengerin cerita nih anak, tapi kurang suka kalau dibacain cerita dari sebuah buku yang diulang-ulang. Maunya kisah nyata orang-orang terdekatnya saja. Atau saat ku ngarang cerita karena kehabisan stok. 

Saat ku cerita betapa ngerinya mimpiku semalam, tentang kehilangan jejak sosok asing yang membantu kita membukakan pintu kereta (dalam mimpi). Dia bilang, seharusnya aku balik tidur lagi biar mimpinya nyambung lagi. Trus kutanya dia, 'Memang Haila pernah nyambung lagi mimpinya?' Dia jawab, iya. Dan dia kasih tips kalau mau nyambung lagi mimpinya, harus cepet-cepet tidur lagi, karena kalau engga nanti mimpinya pindah tempat. Hahaha setelah dia nyaman berkenalan dengan Lucid, dia nyaman saat mimpi terputus dan lambat laun paham juga gimana cara menyambung mimpi. Sip! Engga usah pakai dijelasin ternyata anak-anak itu lebih cepat paham dunia mimpi dari orang dewasa ya. Mungkin karena hatinya masih lapang dan menerima dengan baik segala imajinasi yang ada. Kalau orang dewasa cenderung keras hati dan merasa paling serba tahu dan serba bisa, jadi kurang imajinatif. Hal-hal yang di luar akal fikiran hanya akan menjadi lelucon semata. Seperti, 'Sudah bukan wayahnya kamu terpesona dengan dunia mimpi, Da!' 

maksudmu?!

Pagi dan Malam.
Dunia nyata dan dunia maya dalam mimpi. 
Kalau Siang kita sudah berpayah-payah, maka malam saat rehat kita dihibur dengan dunia yang kadang bikin pilu, kemudian kita merasa lega, 'Fiuh hanya mimpi' atau bikin jengkel, 'Ohhh kenapa cuma mimpi??' ... Lalu apakah dunia yang sudah menghibur kita saat kita terlelap mau dinafikan keberadaannya? Tentu saja, jangan. Itu dunia yang penting, kualitas hidup dan cara pandang akan sesuatu hal dapat terlihat dari bagaimana kita memperlakukan mimpi kita, apakah kita akan menghargainya, menyambutnya, menganggapnya penting atau hanya sekedar pengalaman tak berarti. 

Aku engga bermaksud menggurui sih. Cuma berharap, agar kelak anak-anakku bisa menghargai mimpi-mimpinya, dan menganggapnya sebagai bagian dari kehidupannya. Terus terang, berbagi cerita mimpi itu menyenangkan. Kita semacam diceritain sebagian rahasia kecil ambisi, keinginan dan harapan seseorang yang tak tersampaikan di dunia nyata, tapi sedikit terwujud di dunia mimpi. Ya, seperti saat kumerasa harus TERBANG tanpa sayap. Cuma ingin tahu rasanya terbang, tapi tidak mungkin bisa dilakukan di kehidupan nyata, maka itu kugunakan dunia mimpi untuk merasakan seperti apa sih rasanya terbang. Setelah itu ya mendarat dengan susah payah, tapi bangun tidur terasa lebih menggembirakan ha ha ha (^_^) 

Selasa, 28 Februari 2017

Seperti biasa mba Aida ... Espresso khan? (^_^)

Beberapa tahun yang lalu, sebutlah seseorang dengan Initial X. Dia sering banget menulis banyak hal di status Facebooknya. Banyak sekali hal yang dia utarakan dan semuanya berisi bahasan yang sedang 'marak dibicarakan' jadi tidak mungkin tulisannya tidak up-to-date; aku langsung tambahkan dia dalam pertemananku, terlebih lagi dia adalah pecinta Kopi, jadi, tidak ada alasan untuk tidak menambahkan Initial X sebagai teman media sosial. 

Hingga saat salah satu tulisannya menyinggung tentang paham tertentu tapi sentilannya kurang elegan, menurutku. Dan tidak cuma sekali dua kali, tapi beberapa kali. Duh ... sudah engga nyaman. Aku punya beberapa teman dari berbagai ajaran agama, dan berbagai macam madzab Islam, jadi amat sangat sedih kalau tiap hari aku harus disuguhin dengan tulisan yang selalu berapi-api tapi bukan menyulut semangat pemersatu bangsa melainkan api kebencian. Akhirnya dengan berat hati aku melepas ikatan pertemanan. Buat dia sih engga ada 'rasa' dia kulepas, siapa sih 'saya' ... karena tak lama berselang dia makin kondang dan melahirkan buku, dan mulai sibuk untuk isi acara di sana-sini. Ya Alhamdulillah kalau banyak yang suka dengan tulisan dia. Tapi kalau ini menandakan banyak orang yang suka tulisan yang menyebar api kebencian daripada semangat kesatuan, aku jadi sedih. Sedih sendirian sih biasanya karena yang lain sepertinya baik-baik saja ha ha ha 

'Seperti biasa, Aida. Sepi sendiri di tepian ... iya khan?'
Jika suatu saat kita bertemu, kita akan baik-baik saja, karena diantara orang-orang yang ruwet di medsos, biasanya lumer kalau ada kafein ha ha ha. Selamat malam, selamat menikmati sisa kopi di cangkir masing-masing ✌



Minggu, 26 Februari 2017

Baram ... Wind ... Angin.

Semalam aku mimpi di sebuah tempat yang pernah ku datangi dalam mimpi juga, Tapi susah melukiskannya karena sebagian tempat berwarna abu-abu gelap adan hanya ruangan tertentu yang berwarna. Lalu ada beberapa tulisan-tulisan Korea, jadi sepertinya ku di Korea sekarang. Tempat yang kudatangi sepi, hanya tampak siluet orang lalu-lalang. Kemudian samar terdengar lagu .... 'Baraam .... baram ...'

Sepanjang mimpi dengernya lagu Baraaam ... Baraaam ini.
Bangun tidur, masih terngiang-ngiang makanya langsung cari lagi. Pernah denger lagu ini kok sebenernya. Cuma lupa kapan. Yang jelas denger cuma sekali aja dan sudah lama sekali. Mungkin saat lihat TV atau saat di jalanan Djogja-Solo yang biasanya aku arahkan ke acara radio lagu-lagu JPop dan KPop. Akhirnya tahu kalau yang nyanyi si Kyuhyun hahaha ... dulu engga tahu kalau ini lagu dia karena radionya engga kasih info tentang siapa penyanyinya, cuma muterin lagu (^-^)

((((waktu kucari tahu, lagu Baram, artinya Wind kalau dalam bahasa Korea, dan ada beberapa penyanyi yang nyanyiken lagu itu, satu-satu aku dengar, eh ternyata yang terdengar di mimpiku lagunya Wind punya Kyuhyun.))))


Di mimpiku itu aku ribut harus masuk kamar mandi. Harus segera mandi dan siap-siap keluar jalan-jalan. Semacam sudah bikin janji, tapi tidak tau dengan siapa. Lalu akumasuk sebuah kamar mandi kecil yang lucu, banyak pernak-pernik natural dan bebetauan asli. Ada mangkuk besar terbuat dari batu kali yang dilubangin untuk tempat sabun dan sikat gigi, dan dihiasi dengan lumut segar. Dalam hatiku, ini dia kamar mandi favoritku. Baru bersiap-siap tiba-tiba ada laba-laba mengintip dibali batu besar dekat tempat sabun. Aaaargh! langsung lompat keluar dari kamar mandi dan cepat-cepat mencari kamar mandi lainnya karena kulihar jam sudah melesat cepat. Pilihanku jatuh pada kamar mandi yang berwarna putih bersih dengan dan aku mandi di situ. Selesai mandi aku mengambil tas warna biru muda jeans dan mulai jalan-jalan. Tapi masih tidak jelas dengan siapa. []

Anakku sembuh setelah 3 tahun perjuangan melawan Sembelit karena Hisprung Short

Aku menulis kisah ini agar bisa dibaca oleh ibu-ibu yang anaknya mengalami sembelit akut seperti anakku dulu. Awalnya anakku dulu, masalah BAB nya baik-baik saja. Aku selalu menuliskan perihal apapun tentang anakku, dari mulai dalam kandungan hingga lahir, sampai sekarang. Aku lihat kalau anakku tidak ada masalah dengan perutnya juga, apalagi dengan pola BAB nya. Tapi tiba-tiba saat umurnya 3 tahun (tepat sehari setelah ulang tahunnya yang ke-3) yaitu 25 Oktober 2013, dia mulai susah PUP dan pup nya pun keras. Waktu itu kita di Pekalongan selama seminggu dan dia belum PUP selama seminggu itu pula. Akhirnya aku pulang, untuk dibawa ke dokter di Solo. Di Pekalongan sempat dibawa ke dokter tapi tidak sembuh dan perutnya malah kembung. Anaknya sih tidak rewel tidak menangis, tapi aku yang bingung, biasanya paling lambat 2 hari sekali pup, ini kok sampai seminggu. 

Aku bawa ke dokter, dikasih obat tetesan Pisucon, diminum dengan diteteskan 10 tetes dalam air. Besoknya PUP yang keras itu akan melunak dan baru bisa BAB. Hal ini, terjadi hingga berminggu-minggu. Kemudian berbulan-bulan dari sejak Oktober 2013 sampai Januari 2014, aku kasih Pisucon kalau mau PUP, karena selalu tidak bisa PUP. Kebayang sumpeknya yah kita berdua. Belum lagi, anakku suka nahan pup, jadi begitu ada rasa kebelet semacam ditahan-tahan, mungkin trauma takut sakit. Aku sampai punya buku jadwal khusus mengatur PUPnya anakku. Aku atur jadwalnya supaya tidak terlalu mengganggu jadwal sekolahnya. Tapi ya tetep tidak bisa, karena kalau sudah mules itu anakku bisa seharian lemes perutnya mules dan ga mau aktivitas apa-apa jadi terpaksa sekolahnya banyak bolosnya. Untung sekolah anakku paham sudah tentang hal ini karena aku ya cerita ke guru-gurunya, bahkan juga minta bantuan agar bisa sama-sama membuat anakku tidak takut kalau rasa mules datang karena itu hal yang wajar kalau mau BAB. 

Sepanjang 2014 itu, selama seminggu sekali selalu mengandalkan Pisucon kalau mau PUP. Dan PUPnya bisa dihitung, seminggu 2 kali saja. Belum lagi, dia juga belum lulus toilet traning. Tahun 2014 itu dia awal-awal masuk sekolah PlayGrup, jadi sedikit demi sedikit toilet training agak sukses, tapi tidak dengan urusan PUP. Okelah bersabar lagi kita. Aku mencoba segala macam obat dari dokter dan tabib. Belum ada yang manjur. Kemudian dokter menyarankan untuk periksa Colon in Loop, jadi ususnya dicek, agar tau apakah ada masalah atau tidak. Dan ternyata, anakku Hisprung Short 2cm. Aku kaget. Aduh ... bukannya kalau Hisprung itu sudah bawaan dari bayi, lalu mengapa bisa muncul di saat umur 3 tahun? Dokternya tidak menjawab lain hal kecuali ya memang itu kelainan. Tapi beruntung cuma short, jadi kemungkinan tidak akan dioperasi. 

Mau visit dr. Rochadi di Djogja
Lama setelah terima hasil Lab Colon in Loop itu aku ga langsung cari di Google tentang Hisprung. Takut. Berpikirnya nanti kalau ini dan itu dan harus ini dan itu. Padahal ini anak masih kecil. Sedih dan bingung. Suatu hari, anakku susah pup sampai yang parah, yang harus minum Pisucon sehari sekali 15 tetes, dan masih belum pup dan hampir 10 hari. Waktu itu dia sakit demam dan radang, jadi bertumpuk-tumpuk rasa sumpek, hingga akhirnya aku memutuskan untuk Gooling tentang Hisprung. Aku membaca banyak laman dan forum tentang Mega Colon dan Hisprung, dari mulai jam 10 malam sampai jam 4 pagi. Akhirnya aku dapet no kontak penderita Hisprung yang sembuh karena konsumsi Daun Banci.

Januari tahun 2015, aku mulai treatment anakku dengan Daun Banci dan juga terapi sinar di dr. Rochadi di Yogyakarta. Aku juga mulai aktif di grup ibu-ibu dan bapak yang anaknya sakit Hisprung: Grup Daun Banci namanya. Tinggal cari atau klik di FB atau link yang aku tautkan. Kalau Googling tentang dr. Rochadi mungkin banyak hasilnya, alamatnya juga mudah di cari kok. Kliniknya di sebelah rumah sakit Mitra Husada. Lama aku terapi Daun Banci dan sinar ini setiap hari sabtu aku ke Djogja. Tapi kadang juga Senin subuh berangkat, kadang naik kereta dan kadang naik mobil. Aku bertiga sama anak-anak dan Ontinya. Subuh, berangkat, nyampe Djogja jam 7 pagi dan prakteknya jam 8. Kita biasanya jadi pasien pertama, langsung jam 9.00 pulang, dan nyampe Solo lagi jam 11.00.

Kemudian, aku denger cerita anaknya temenku yang tangannya patah dan sulit gerak, tapi sembuh syarafnya karena renang, aku pun ambil les renang untuk anakku. Jadi di umurnya yang 5,5 tahun aku suruh anaknya les renang. Dia memang senang renang dan main air, tapi takut sih kalau menyelam dalam air, jadi sekalian mengobatin syaraf mengejannya, aku mau atasi fobia menyelamnya dengan Les Renang. Seminggu dua kali dia renang, kalau ga ditemeni Pelatihnya, ya renang sendiri di kolam aku temeni dari pinggiran kolam. kira-kira 5 bulanan dia aktif olahraga renang, alhamdulillah, saat itu tepat di bulan Oktober 2016, dia bisa Pup sendiri tanpa obat pencahar dan sekarang, dia sembuh, mungkin PUP nya dua hari sekali, tapi sudah tidak tergantung obat.

Jadi dari mulai Oktober 2013 - Oktober 2016, dimana dia harus pake Pisucon atau Laxoberon kalau mau BAB, dia kini bebas dari obat-obatan. Alhamdulillah. Yang tadinya berat badan cuma main sekitar 16, 17, 18, sekarang sudah 19 dan 20. Ya Allah bersyukur kita semua padaMu, karenaMu lah aku bertemu dengan mba Aisyah yang pertama kali ngasih aku Daun Banci sebanyak-banyak sampai aku tanam di rumah dan tumbuh lebat. Juga dengan ayah bunda di Grup Daun Banci; kepada Guru-burunya di sekolah terutama Mr Jiyo dan Ms. Tata yang sudah telaten sama anakku: juga ke pak dr. Rochadi berkat nasehat dan kesabaran beliau menghadapi pertanyaan ibu-ibu yang mudah panik; kepada mas Deny "Si Manusia Ikan" pak pelatih renang kesayangan Suhaila, yang sudah sabar ngajarin Suhaila renang dari mulai takut air, takut kacamata renang, sekarang sudah gak takut lagi dan lebih luwes menghadapi air.

ini DAUN BANCI.
cara memasaknya sama seperti memasak bayam
Aku juga rutin konsultasi ke dr Endang di Solo, aku nanya apa ada sih anak-anak HIsprung yang sudah besar dan seperti apa mereka? Beliau bilang, banyak, ya ada yang sembuh dalam arti bisa berdamai dengan susah pup, tinggal ganti pola makan. Oleh dr. Rochadi, anakku harus makan PAPAYA tiap hari, padahal anaknya suka bosen kalau sama buah-buahan. Untungnya anaknya khan sudah sekolah, jadi makanan sehat yang masuk ke perutnya dengan bahagia itu full didapatkan di Sekolah, kalau mengandalkan rumah, duh jelas engga sip anaknya selalu ngeles dengan kata-kata: 'Aku malu makan sayuran kalau di rumah' WHAT??!!

Aku juga saling curhat sama ibu-ibu yang anaknya ada sakit Hisprung juga, dia cerita kalau ya memang masih kita awasi pola BAB anak, tapi kalau sudah SD sudah pinter atur pola BAB sendiri. Iya bener sih. Dulu anakku semacam engga paham PUP itu apa sih dan mengapa harus PUP. Sekarang, tepatnya ya kemaren di hari ulang tahunnya yang ke-6, itu aku ajak ngobrol dia, kalau pup jangan ditahan, dan harus bilang kapan perut mules mau pup langsung ke kamar mandi. Ya Allah alhamdulillah, besoknya itu dia bilang perut mules dan mau pup di kamar mandi. Ya Allah senengnya bukan main sampai mewek di kamar mandi aku. Anakku juga seneng. Semacam kemenangan. Engga peduli anak lain potty training lulus umur 18 bulan kek, 2 tahun kek, yang penting khan ya lulus, ntah kapan waktunya. Kalau mau bilang ku engga sukses ngurus potty anak, ya monggo, tapi ngadepin anak pup di bawah kontrol obat Pisucon, Laxoberon dan Microlac itu engga gampang. Terlebih lagi tiap anak punya tabiat yang berbeda menghadapi BAB, ada yang lari-lari ketakutan, ada yang sembunyi, dan lain-lain.

Setelah beres urusan potty training ini, dan anakku dah sip pola BAB nya aku engga lagi cek apakah Hisprung 2cm nya masih 'cacat' 2cm atau sudah sembuh total. Tes Colon in Loop itu bikin sedih. Anak dimasukin cairan dalam perutnya buat difoto rontgen apakah salurannya beres atau tidak. Tapi sedih lihatnya, engga tega. Wes engga usah pakai tes-tesan yang jelas anakku sekarang dah paham tidak usah lagi menahan PUP keluar karena kalau makannya sehat-sehat sayuran dan buah-buahan bakal lancar urusan BABnya. Alhamdulillah Ya Rabb!! (^_^)

Jadi buat ayahbunda yang anaknya menderita Hisprung jangan putus asa. Coba bergabung dengan Grup Daun Banci yang kusebutkan di atas, trus coba ke dr, Rochadi (Djogja), karena beliau ahli Hisprung pada anak dan dokternya luar biasa sabar, plus RENANG. Aduh aku merasakan manfaatnya renang pada anak ya ini nih ternyata. Bukan cuma baik untuk kesehatan pernafasan, tapi bagus buat syaraf-syaraf pertumbuhan yang lain. Jangan takut kalau anak pilek banyak dan ringan obatnya. Tapi kalau dah sembelit, Allah Kareem .... sedih lihatnya. Jadi, mari sama-sama berbagi. Semoga bermanfaat. See you there! []