Sabtu, 04 Maret 2017

Tulis semua rahasia dan mimpimu. Mimpi. Bukan cuma impian

Tadi pagi setelah nulis di buku mimpi, ngobrol-ngobrolah kita dengan Suhaila. Kuceritain tentang mimpiku semalam. Seru. Dia memang jadi penggemar pertama kalau aku cerita, apa saja. Hobi dengerin cerita nih anak, tapi kurang suka kalau dibacain cerita dari sebuah buku yang diulang-ulang. Maunya kisah nyata orang-orang terdekatnya saja. Atau saat ku ngarang cerita karena kehabisan stok. 

Saat ku cerita betapa ngerinya mimpiku semalam, tentang kehilangan jejak sosok asing yang membantu kita membukakan pintu kereta (dalam mimpi). Dia bilang, seharusnya aku balik tidur lagi biar mimpinya nyambung lagi. Trus kutanya dia, 'Memang Haila pernah nyambung lagi mimpinya?' Dia jawab, iya. Dan dia kasih tips kalau mau nyambung lagi mimpinya, harus cepet-cepet tidur lagi, karena kalau engga nanti mimpinya pindah tempat. Hahaha setelah dia nyaman berkenalan dengan Lucid, dia nyaman saat mimpi terputus dan lambat laun paham juga gimana cara menyambung mimpi. Sip! Engga usah pakai dijelasin ternyata anak-anak itu lebih cepat paham dunia mimpi dari orang dewasa ya. Mungkin karena hatinya masih lapang dan menerima dengan baik segala imajinasi yang ada. Kalau orang dewasa cenderung keras hati dan merasa paling serba tahu dan serba bisa, jadi kurang imajinatif. Hal-hal yang di luar akal fikiran hanya akan menjadi lelucon semata. Seperti, 'Sudah bukan wayahnya kamu terpesona dengan dunia mimpi, Da!' 

maksudmu?!

Pagi dan Malam.
Dunia nyata dan dunia maya dalam mimpi. 
Kalau Siang kita sudah berpayah-payah, maka malam saat rehat kita dihibur dengan dunia yang kadang bikin pilu, kemudian kita merasa lega, 'Fiuh hanya mimpi' atau bikin jengkel, 'Ohhh kenapa cuma mimpi??' ... Lalu apakah dunia yang sudah menghibur kita saat kita terlelap mau dinafikan keberadaannya? Tentu saja, jangan. Itu dunia yang penting, kualitas hidup dan cara pandang akan sesuatu hal dapat terlihat dari bagaimana kita memperlakukan mimpi kita, apakah kita akan menghargainya, menyambutnya, menganggapnya penting atau hanya sekedar pengalaman tak berarti. 

Aku engga bermaksud menggurui sih. Cuma berharap, agar kelak anak-anakku bisa menghargai mimpi-mimpinya, dan menganggapnya sebagai bagian dari kehidupannya. Terus terang, berbagi cerita mimpi itu menyenangkan. Kita semacam diceritain sebagian rahasia kecil ambisi, keinginan dan harapan seseorang yang tak tersampaikan di dunia nyata, tapi sedikit terwujud di dunia mimpi. Ya, seperti saat kumerasa harus TERBANG tanpa sayap. Cuma ingin tahu rasanya terbang, tapi tidak mungkin bisa dilakukan di kehidupan nyata, maka itu kugunakan dunia mimpi untuk merasakan seperti apa sih rasanya terbang. Setelah itu ya mendarat dengan susah payah, tapi bangun tidur terasa lebih menggembirakan ha ha ha (^_^) 

Selasa, 28 Februari 2017

Seperti biasa mba Aida ... Espresso khan? (^_^)

Beberapa tahun yang lalu, sebutlah seseorang dengan Initial X. Dia sering banget menulis banyak hal di status Facebooknya. Banyak sekali hal yang dia utarakan dan semuanya berisi bahasan yang sedang 'marak dibicarakan' jadi tidak mungkin tulisannya tidak up-to-date; aku langsung tambahkan dia dalam pertemananku, terlebih lagi dia adalah pecinta Kopi, jadi, tidak ada alasan untuk tidak menambahkan Initial X sebagai teman media sosial. 

Hingga saat salah satu tulisannya menyinggung tentang paham tertentu tapi sentilannya kurang elegan, menurutku. Dan tidak cuma sekali dua kali, tapi beberapa kali. Duh ... sudah engga nyaman. Aku punya beberapa teman dari berbagai ajaran agama, dan berbagai macam madzab Islam, jadi amat sangat sedih kalau tiap hari aku harus disuguhin dengan tulisan yang selalu berapi-api tapi bukan menyulut semangat pemersatu bangsa melainkan api kebencian. Akhirnya dengan berat hati aku melepas ikatan pertemanan. Buat dia sih engga ada 'rasa' dia kulepas, siapa sih 'saya' ... karena tak lama berselang dia makin kondang dan melahirkan buku, dan mulai sibuk untuk isi acara di sana-sini. Ya Alhamdulillah kalau banyak yang suka dengan tulisan dia. Tapi kalau ini menandakan banyak orang yang suka tulisan yang menyebar api kebencian daripada semangat kesatuan, aku jadi sedih. Sedih sendirian sih biasanya karena yang lain sepertinya baik-baik saja ha ha ha 

'Seperti biasa, Aida. Sepi sendiri di tepian ... iya khan?'
Jika suatu saat kita bertemu, kita akan baik-baik saja, karena diantara orang-orang yang ruwet di medsos, biasanya lumer kalau ada kafein ha ha ha. Selamat malam, selamat menikmati sisa kopi di cangkir masing-masing ✌



Minggu, 26 Februari 2017

Baram ... Wind ... Angin.

Semalam aku mimpi di sebuah tempat yang pernah ku datangi dalam mimpi juga, Tapi susah melukiskannya karena sebagian tempat berwarna abu-abu gelap adan hanya ruangan tertentu yang berwarna. Lalu ada beberapa tulisan-tulisan Korea, jadi sepertinya ku di Korea sekarang. Tempat yang kudatangi sepi, hanya tampak siluet orang lalu-lalang. Kemudian samar terdengar lagu .... 'Baraam .... baram ...'

Sepanjang mimpi dengernya lagu Baraaam ... Baraaam ini.
Bangun tidur, masih terngiang-ngiang makanya langsung cari lagi. Pernah denger lagu ini kok sebenernya. Cuma lupa kapan. Yang jelas denger cuma sekali aja dan sudah lama sekali. Mungkin saat lihat TV atau saat di jalanan Djogja-Solo yang biasanya aku arahkan ke acara radio lagu-lagu JPop dan KPop. Akhirnya tahu kalau yang nyanyi si Kyuhyun hahaha ... dulu engga tahu kalau ini lagu dia karena radionya engga kasih info tentang siapa penyanyinya, cuma muterin lagu (^-^)

((((waktu kucari tahu, lagu Baram, artinya Wind kalau dalam bahasa Korea, dan ada beberapa penyanyi yang nyanyiken lagu itu, satu-satu aku dengar, eh ternyata yang terdengar di mimpiku lagunya Wind punya Kyuhyun.))))


Di mimpiku itu aku ribut harus masuk kamar mandi. Harus segera mandi dan siap-siap keluar jalan-jalan. Semacam sudah bikin janji, tapi tidak tau dengan siapa. Lalu akumasuk sebuah kamar mandi kecil yang lucu, banyak pernak-pernik natural dan bebetauan asli. Ada mangkuk besar terbuat dari batu kali yang dilubangin untuk tempat sabun dan sikat gigi, dan dihiasi dengan lumut segar. Dalam hatiku, ini dia kamar mandi favoritku. Baru bersiap-siap tiba-tiba ada laba-laba mengintip dibali batu besar dekat tempat sabun. Aaaargh! langsung lompat keluar dari kamar mandi dan cepat-cepat mencari kamar mandi lainnya karena kulihar jam sudah melesat cepat. Pilihanku jatuh pada kamar mandi yang berwarna putih bersih dengan dan aku mandi di situ. Selesai mandi aku mengambil tas warna biru muda jeans dan mulai jalan-jalan. Tapi masih tidak jelas dengan siapa. []

Anakku sembuh setelah 3 tahun perjuangan melawan Sembelit karena Hisprung Short

Aku menulis kisah ini agar bisa dibaca oleh ibu-ibu yang anaknya mengalami sembelit akut seperti anakku dulu. Awalnya anakku dulu, masalah BAB nya baik-baik saja. Aku selalu menuliskan perihal apapun tentang anakku, dari mulai dalam kandungan hingga lahir, sampai sekarang. Aku lihat kalau anakku tidak ada masalah dengan perutnya juga, apalagi dengan pola BAB nya. Tapi tiba-tiba saat umurnya 3 tahun (tepat sehari setelah ulang tahunnya yang ke-3) yaitu 25 Oktober 2013, dia mulai susah PUP dan pup nya pun keras. Waktu itu kita di Pekalongan selama seminggu dan dia belum PUP selama seminggu itu pula. Akhirnya aku pulang, untuk dibawa ke dokter di Solo. Di Pekalongan sempat dibawa ke dokter tapi tidak sembuh dan perutnya malah kembung. Anaknya sih tidak rewel tidak menangis, tapi aku yang bingung, biasanya paling lambat 2 hari sekali pup, ini kok sampai seminggu. 

Aku bawa ke dokter, dikasih obat tetesan Pisucon, diminum dengan diteteskan 10 tetes dalam air. Besoknya PUP yang keras itu akan melunak dan baru bisa BAB. Hal ini, terjadi hingga berminggu-minggu. Kemudian berbulan-bulan dari sejak Oktober 2013 sampai Januari 2014, aku kasih Pisucon kalau mau PUP, karena selalu tidak bisa PUP. Kebayang sumpeknya yah kita berdua. Belum lagi, anakku suka nahan pup, jadi begitu ada rasa kebelet semacam ditahan-tahan, mungkin trauma takut sakit. Aku sampai punya buku jadwal khusus mengatur PUPnya anakku. Aku atur jadwalnya supaya tidak terlalu mengganggu jadwal sekolahnya. Tapi ya tetep tidak bisa, karena kalau sudah mules itu anakku bisa seharian lemes perutnya mules dan ga mau aktivitas apa-apa jadi terpaksa sekolahnya banyak bolosnya. Untung sekolah anakku paham sudah tentang hal ini karena aku ya cerita ke guru-gurunya, bahkan juga minta bantuan agar bisa sama-sama membuat anakku tidak takut kalau rasa mules datang karena itu hal yang wajar kalau mau BAB. 

Sepanjang 2014 itu, selama seminggu sekali selalu mengandalkan Pisucon kalau mau PUP. Dan PUPnya bisa dihitung, seminggu 2 kali saja. Belum lagi, dia juga belum lulus toilet traning. Tahun 2014 itu dia awal-awal masuk sekolah PlayGrup, jadi sedikit demi sedikit toilet training agak sukses, tapi tidak dengan urusan PUP. Okelah bersabar lagi kita. Aku mencoba segala macam obat dari dokter dan tabib. Belum ada yang manjur. Kemudian dokter menyarankan untuk periksa Colon in Loop, jadi ususnya dicek, agar tau apakah ada masalah atau tidak. Dan ternyata, anakku Hisprung Short 2cm. Aku kaget. Aduh ... bukannya kalau Hisprung itu sudah bawaan dari bayi, lalu mengapa bisa muncul di saat umur 3 tahun? Dokternya tidak menjawab lain hal kecuali ya memang itu kelainan. Tapi beruntung cuma short, jadi kemungkinan tidak akan dioperasi. 

Mau visit dr. Rochadi di Djogja
Lama setelah terima hasil Lab Colon in Loop itu aku ga langsung cari di Google tentang Hisprung. Takut. Berpikirnya nanti kalau ini dan itu dan harus ini dan itu. Padahal ini anak masih kecil. Sedih dan bingung. Suatu hari, anakku susah pup sampai yang parah, yang harus minum Pisucon sehari sekali 15 tetes, dan masih belum pup dan hampir 10 hari. Waktu itu dia sakit demam dan radang, jadi bertumpuk-tumpuk rasa sumpek, hingga akhirnya aku memutuskan untuk Gooling tentang Hisprung. Aku membaca banyak laman dan forum tentang Mega Colon dan Hisprung, dari mulai jam 10 malam sampai jam 4 pagi. Akhirnya aku dapet no kontak penderita Hisprung yang sembuh karena konsumsi Daun Banci.

Januari tahun 2015, aku mulai treatment anakku dengan Daun Banci dan juga terapi sinar di dr. Rochadi di Yogyakarta. Aku juga mulai aktif di grup ibu-ibu dan bapak yang anaknya sakit Hisprung: Grup Daun Banci namanya. Tinggal cari atau klik di FB atau link yang aku tautkan. Kalau Googling tentang dr. Rochadi mungkin banyak hasilnya, alamatnya juga mudah di cari kok. Kliniknya di sebelah rumah sakit Mitra Husada. Lama aku terapi Daun Banci dan sinar ini setiap hari sabtu aku ke Djogja. Tapi kadang juga Senin subuh berangkat, kadang naik kereta dan kadang naik mobil. Aku bertiga sama anak-anak dan Ontinya. Subuh, berangkat, nyampe Djogja jam 7 pagi dan prakteknya jam 8. Kita biasanya jadi pasien pertama, langsung jam 9.00 pulang, dan nyampe Solo lagi jam 11.00.

Kemudian, aku denger cerita anaknya temenku yang tangannya patah dan sulit gerak, tapi sembuh syarafnya karena renang, aku pun ambil les renang untuk anakku. Jadi di umurnya yang 5,5 tahun aku suruh anaknya les renang. Dia memang senang renang dan main air, tapi takut sih kalau menyelam dalam air, jadi sekalian mengobatin syaraf mengejannya, aku mau atasi fobia menyelamnya dengan Les Renang. Seminggu dua kali dia renang, kalau ga ditemeni Pelatihnya, ya renang sendiri di kolam aku temeni dari pinggiran kolam. kira-kira 5 bulanan dia aktif olahraga renang, alhamdulillah, saat itu tepat di bulan Oktober 2016, dia bisa Pup sendiri tanpa obat pencahar dan sekarang, dia sembuh, mungkin PUP nya dua hari sekali, tapi sudah tidak tergantung obat.

Jadi dari mulai Oktober 2013 - Oktober 2016, dimana dia harus pake Pisucon atau Laxoberon kalau mau BAB, dia kini bebas dari obat-obatan. Alhamdulillah. Yang tadinya berat badan cuma main sekitar 16, 17, 18, sekarang sudah 19 dan 20. Ya Allah bersyukur kita semua padaMu, karenaMu lah aku bertemu dengan mba Aisyah yang pertama kali ngasih aku Daun Banci sebanyak-banyak sampai aku tanam di rumah dan tumbuh lebat. Juga dengan ayah bunda di Grup Daun Banci; kepada Guru-burunya di sekolah terutama Mr Jiyo dan Ms. Tata yang sudah telaten sama anakku: juga ke pak dr. Rochadi berkat nasehat dan kesabaran beliau menghadapi pertanyaan ibu-ibu yang mudah panik; kepada mas Deny "Si Manusia Ikan" pak pelatih renang kesayangan Suhaila, yang sudah sabar ngajarin Suhaila renang dari mulai takut air, takut kacamata renang, sekarang sudah gak takut lagi dan lebih luwes menghadapi air.

ini DAUN BANCI.
cara memasaknya sama seperti memasak bayam
Aku juga rutin konsultasi ke dr Endang di Solo, aku nanya apa ada sih anak-anak HIsprung yang sudah besar dan seperti apa mereka? Beliau bilang, banyak, ya ada yang sembuh dalam arti bisa berdamai dengan susah pup, tinggal ganti pola makan. Oleh dr. Rochadi, anakku harus makan PAPAYA tiap hari, padahal anaknya suka bosen kalau sama buah-buahan. Untungnya anaknya khan sudah sekolah, jadi makanan sehat yang masuk ke perutnya dengan bahagia itu full didapatkan di Sekolah, kalau mengandalkan rumah, duh jelas engga sip anaknya selalu ngeles dengan kata-kata: 'Aku malu makan sayuran kalau di rumah' WHAT??!!

Aku juga saling curhat sama ibu-ibu yang anaknya ada sakit Hisprung juga, dia cerita kalau ya memang masih kita awasi pola BAB anak, tapi kalau sudah SD sudah pinter atur pola BAB sendiri. Iya bener sih. Dulu anakku semacam engga paham PUP itu apa sih dan mengapa harus PUP. Sekarang, tepatnya ya kemaren di hari ulang tahunnya yang ke-6, itu aku ajak ngobrol dia, kalau pup jangan ditahan, dan harus bilang kapan perut mules mau pup langsung ke kamar mandi. Ya Allah alhamdulillah, besoknya itu dia bilang perut mules dan mau pup di kamar mandi. Ya Allah senengnya bukan main sampai mewek di kamar mandi aku. Anakku juga seneng. Semacam kemenangan. Engga peduli anak lain potty training lulus umur 18 bulan kek, 2 tahun kek, yang penting khan ya lulus, ntah kapan waktunya. Kalau mau bilang ku engga sukses ngurus potty anak, ya monggo, tapi ngadepin anak pup di bawah kontrol obat Pisucon, Laxoberon dan Microlac itu engga gampang. Terlebih lagi tiap anak punya tabiat yang berbeda menghadapi BAB, ada yang lari-lari ketakutan, ada yang sembunyi, dan lain-lain.

Setelah beres urusan potty training ini, dan anakku dah sip pola BAB nya aku engga lagi cek apakah Hisprung 2cm nya masih 'cacat' 2cm atau sudah sembuh total. Tes Colon in Loop itu bikin sedih. Anak dimasukin cairan dalam perutnya buat difoto rontgen apakah salurannya beres atau tidak. Tapi sedih lihatnya, engga tega. Wes engga usah pakai tes-tesan yang jelas anakku sekarang dah paham tidak usah lagi menahan PUP keluar karena kalau makannya sehat-sehat sayuran dan buah-buahan bakal lancar urusan BABnya. Alhamdulillah Ya Rabb!! (^_^)

Jadi buat ayahbunda yang anaknya menderita Hisprung jangan putus asa. Coba bergabung dengan Grup Daun Banci yang kusebutkan di atas, trus coba ke dr, Rochadi (Djogja), karena beliau ahli Hisprung pada anak dan dokternya luar biasa sabar, plus RENANG. Aduh aku merasakan manfaatnya renang pada anak ya ini nih ternyata. Bukan cuma baik untuk kesehatan pernafasan, tapi bagus buat syaraf-syaraf pertumbuhan yang lain. Jangan takut kalau anak pilek banyak dan ringan obatnya. Tapi kalau dah sembelit, Allah Kareem .... sedih lihatnya. Jadi, mari sama-sama berbagi. Semoga bermanfaat. See you there! []

Kamis, 23 Februari 2017

Tentang seorang anak laki-laki yang suka muncul di sore hari

Dulu aku menulis di buku harianku tentang seorang anak laki-laki yang suka muncul di sore hari dari sebelah rumahku. Sebelah rumahku itu dulu pabrik kain, dari mulai Kakek sampai Pamanku, berkecimpung di kain dan bekerja di situ. Pabriknya cukup ramai, banyak para pekerja yang bekerja di sana, dan ku tidak hafal satu persatu, tapi aku sering main di Pabrik, seolah berpetualang di gudang besar.

Tentang anak laki-laki yang selalu muncul sore hari saat para pekerja pabrik pulang itu, aku menulis beberapa kisahnya. Dia kalau pulang selalu lewat pintu sebelah rumahku baru kemudian pulang lewati teras dan keluar pabrik lewat pintu rumahku, padahal pabrik juga punya pintu sendiri. Heran mengapa dia pilih lewat pintu samping yang lebih jauh. Dia selalu pulang sore dan suka muncul saat ku main-main sendiri, saat ku masih asyik menari atau main jadi peragawati-peragawatian. Anak laki-laki itu sudah besar sih, sepertinya umur 14 tahun, tinggi, kuning langsat, dan rambutnya pendek. Wajahnya tidak pernah senyum. Saat itu aku berumur 6 tahun, jadi suka main layaknya anak-anak kecil seperti ngobrol sendirian dan nari-nari seenaknya sendiri. Anak laki-laki itu sesekali memperhatikanku saat dia perlahan membuka pintu samping rumah, tapi wajahnya datar, seperti mencemooh kalau yang kuingat. Karena begitu aku melihat dia yang tengah melihatku, aku langsung ambil sikap diam dan duduk. Sering kali hal itu terjadi, dan makin hari, makin kecut senyumnya. Oh lupa. Dia engga pernah senyum. Sampai sumpek kalau dia lewat pintu samping rumah dan kita berpapasan. Dan itu hampir tiap hari. Orang-orang yang bekerja di pabrik itu selalu ramah, suka menyapa atau kadang kirim salam ke orang tuaku. Tapi bocah ini engga sama sekali. Apa karena dia ya masih kecil jadi engga kenal orang tuaku, apalagi aku. 

Sampai suatu hari, aku duduk di pelataran sambil mainan mesin ketik, saat itu umurku sudah 8 tahun, anak laki-laki itu sudah lebih tinggi dari biasanya. Saat itu dia melihatku mengetik sesuatu, dan itu pertama kalinya dia melempar senyum. Saking kagetnya, ku tidak membalas. Itu senyuman, indah seperti hujan tapi lantang seperti petir, jadi bingung khan? Karena ku tak membalas senyum, dia pun menarik kembali senyumnya dan pulang. 

Keesokan harinya, aku menunggu dia. Dia engga ada.
Aku menunggu lagi keesokan harinya, juga tidak ada. 
Seminggu lebih tak nampak lagi dianya. 
Loh kemana dia? Kok tetiba menghilang. 
Sudah sekian tahun dia lewatin pintu rumah samping kalau mau pulang ke rumahnya tapi kok sekarang malah tidak ada lagi. 
Aku ingat, saat itu aku beranikan diri menanyakan kepada orang di pabrik sebelah apa ada anak laki-laki yang kerja di sini. Aku ceritakan ciri-cirinya, dan mereka bilang kalau tidak ada anak laki-laki yang kerja di sini dengan ciri-ciri seperti itu. 

Loh??
Siapa dia dan ada dimana sekarang? Bikin sedih dan menyesal saja. Seharusnya dulu senyumnya ku balas jadi dia tidak pergi selamanya. Tapi anak umur 8 tahun engga pikir panjang. Ya sudah mau cari dimana juga engga ada. Tapi pengalaman itu nyata. Selama beberapa tahun, anak laki-laki itu lewat di depanku, jadi aku hafal sekali pandangan matanya. 

Hingga saat itu datang. 
Aku berumur 12 tahun, saat itu aku pertama kali naik Kereta Api bersama keluarga besarku menuju Jakarta, dan ku bertemu dengan seseorang yang punya pandangan mata yang sama. Aku berpapasan dengannya saat ku mau ke kamar kecil. Dia melempar senyum, dan aku membalasnya. Rasanya seperti kembali ke suasana saat ku mengetik dan dia membagi senyumnya, hanya saja kali ini, aku mengetik sambil membalas senyum yang dulu tak tersampaikan. Dalam hati, aku merasa tuntas. Lunas hutangku selama bertahun-tahun. Kita berpisah setelah bertukar senyum, karena saat itu, sepupuku buru-buru ingin ke kamar kecil juga dan kita berdua menghalangi jalan. 

siapakah dia? Masih tak ada jawaban, 
Tapi setidaknya, hati merasa lebih baikan setelah membayar hutang senyuman. 
Dia pun sepertinya pulang dengan rasa lega. Entah pulang ke Planet apa ... :) 

Pengalaman Regresi Masa Lalu 2: ubun-ubun yang terluka dan berdarah

Sebelum lupa melanda, aku mau menulis satu kisah pengalaman masa laluku - maksudku, past-life regresi. Kalau tempo lalu ku cerita tentang pengalamanku naik ayunan di atas kolam , maka kali ini ku mau cerita tentang saat kepalaku tertusuk batang pohon tepat di ubun-ubun. Jadi begini ....

Situasinya adalah:

Saat itu aku berumur kira-kira 12 tahun, dan tengah bersiap-siap menonton penyembelihan Qurban di sebelah rumahku. Saat itu ada sepupuku, Initial D yang juga menonton. Kita berdua, duduk di batang pohon besar yang telah ditebang. Saat duduk, tak sengaja aku merebahkan kepalaku seakan ingin bersandar, dan JLEB! sebuah batang pohon yang cukup runcing menusuk ubun-ubun kepala. Aku ingat saat itu aku langsung memanggil mamaku sambil miris karena darah menetes dari kepala bercucuran. Setelah itu tak ingat apa-apa lagi dan sudah di rumah sakit karena aku ternyata (juga) sakit demam berdarah. Saat di rumah sakit aku terus-terusan memegang ubun-ubun kepala dan mencari luka yang kemaren kudapati, ternyata tidak ada. Aku tanya ke mamaku, 'Luka di kepalaku kemana?' Mamaku bingung dan bilang kalau ku tidak ada luka di kepala, dan ke rumah sakitnya itu karena demam berdarah. Lalu, cucuran darah dari kepala yang sempat kurasakan kemarin itu apa yah? Apa mimisan? Tapi rasa sakit di ubun-ubunnya itu nyata. Pedihnya suka masih terasa kalau ku meraba kepala. Ku engga habis pikir, aku ingat, aku tulis itu semua di buku diari dan keheranan, karena berarti sudah ada dua pengalaman yang aneh yang kurasakan seolah nyata, tapi itu kok tidak pernah terjadi dan tidak ada yang menyaksikannya kecuali diriku yang mengalami. 

Setiap aku baca lagi buku diariku suka masih bertanya-tanya, pengalaman-pengalaman begini apa juga dialami oleh semua orang atau hanya beberapa orang yang mengingatnya? Kalau aku sih tipe orang yang mudah lupa, maka itu aku menulis. Sosok yang kurasakan saat ku berdarah-darah karena batang pohon itu, adalah sosok anak perempuan, dengan baju kuning, lusuh sekali bajunya, dan saat berdarah-darah itu dia berjalan memanggil mamanya, kemudian, mamanya dengan tenang menuntunnya turun dari tangga dan setelah itu INGATANku lepas, aku tak ingat apa-apa lagi kecuali aku tengah duduk di sebuah tempat tidur dalam ruangan rumah sakit dan kulihat tangan dan kakiku ada bercak-bercak merah demam berdarah. 

Kalau itu sekedar mimpi, tentu aku merekamnya dalam buku Diari Mimpi, bukan buku Harian. Aku juga pernah demam tinggi mencapai 40 derajat Celcius lebih hingga mengigau ada Raja Ikan yang lari-lari di kebun rumahku, sampai aku bangun dari tempat tidur dan lari memanggil mamaku. Karena mengigau saat demam itu lucu juga, aku merekamnya dengan Tape Recorderku. Banyak hal yang kubicarakan ternyata, tapi tidak ada yang seNyata ubun-ubun kepala yang buncur berdarah-darah karena tertusuk dahan pohon. Jadi sepertinya saat itu bukan mengigau. Tapi ya sudah, kalau sudah dilepas sebagai kisah, siapa tahu ada yang mengenaliku ha ha ha ;)


Rabu, 22 Februari 2017

Ketika postingan lama muncul kembali

Aku post ini 20 Februari 2009. Saat itu dunia FB masih dalam suasana yang menyenangkan. Kehidupan romantis dari Friendster dan Multiply masih menghibur kebingungan kita dengan Facebook yang mencoba inovasi ini dan itu. Seiring pula pertemanan bertambah, beberapa dari teman yang awalnya enggan pindah dari MP dan Friendster, akhirnya pelanpelan pindah juga dan tidak ada bullying

Aku lihat di dalam komentar tidak ada yang saling hujat dan saling, nyinyir,  bahkan kata nyinyir pun belum sekondang sekarang. Bahasan semacam ini tidak akan membuat semua orang berkumpul dan betah ngobrol berjam-jam, bahkan tidak diantara mereka yang memilih sendiri, semua ribut dengan: SIAPA YANG PALING LANTANG berteriak, 'Aku benar dan kamu salah!'

Bahkan aku masih punya beberapa teman bernama Yazid saat itu. Dan biasa saja. Sekarang, tak satupun nama Yazid dalam kontak teman, karena sudah pasti dia akan posting hal-hal yang membuat agemanku menjadi hal yang paling salah di muka bumi, dan daripada hubungan kita tidak baik di dunia maya, salah satu dari kita segera melepaskan diri, kalau tidak aku, ya kamu duluan. Dan rupanya mereka melepasku, karena aku masih bertahan memegang nama mereka, cuma mereka sudah tidak kuat lagi mendapati 'Aida Vyasa' dalam kolom pertemanan. Ya! Beberapa teman dalam kolom komentar postinganpun ada yang sudah tidak lagi menjadi teman hanya karena kita beda pendapat saat Perang Suriah pecah! Duh! Okelah itu sekedar curhat selingan yang mau lewat. Maaf jika tidak berkenan.

* * *