Kamis, 23 Februari 2017

Pengalaman Regresi Masa Lalu 2: ubun-ubun yang terluka dan berdarah

Sebelum lupa melanda, aku mau menulis satu kisah pengalaman masa laluku - maksudku, past-life regresi. Kalau tempo lalu ku cerita tentang pengalamanku naik ayunan di atas kolam , maka kali ini ku mau cerita tentang saat kepalaku tertusuk batang pohon tepat di ubun-ubun. Jadi begini ....

Situasinya adalah:

Saat itu aku berumur kira-kira 12 tahun, dan tengah bersiap-siap menonton penyembelihan Qurban di sebelah rumahku. Saat itu ada sepupuku, Initial D yang juga menonton. Kita berdua, duduk di batang pohon besar yang telah ditebang. Saat duduk, tak sengaja aku merebahkan kepalaku seakan ingin bersandar, dan JLEB! sebuah batang pohon yang cukup runcing menusuk ubun-ubun kepala. Aku ingat saat itu aku langsung memanggil mamaku sambil miris karena darah menetes dari kepala bercucuran. Setelah itu tak ingat apa-apa lagi dan sudah di rumah sakit karena aku ternyata (juga) sakit demam berdarah. Saat di rumah sakit aku terus-terusan memegang ubun-ubun kepala dan mencari luka yang kemaren kudapati, ternyata tidak ada. Aku tanya ke mamaku, 'Luka di kepalaku kemana?' Mamaku bingung dan bilang kalau ku tidak ada luka di kepala, dan ke rumah sakitnya itu karena demam berdarah. Lalu, cucuran darah dari kepala yang sempat kurasakan kemarin itu apa yah? Apa mimisan? Tapi rasa sakit di ubun-ubunnya itu nyata. Pedihnya suka masih terasa kalau ku meraba kepala. Ku engga habis pikir, aku ingat, aku tulis itu semua di buku diari dan keheranan, karena berarti sudah ada dua pengalaman yang aneh yang kurasakan seolah nyata, tapi itu kok tidak pernah terjadi dan tidak ada yang menyaksikannya kecuali diriku yang mengalami. 

Setiap aku baca lagi buku diariku suka masih bertanya-tanya, pengalaman-pengalaman begini apa juga dialami oleh semua orang atau hanya beberapa orang yang mengingatnya? Kalau aku sih tipe orang yang mudah lupa, maka itu aku menulis. Sosok yang kurasakan saat ku berdarah-darah karena batang pohon itu, adalah sosok anak perempuan, dengan baju kuning, lusuh sekali bajunya, dan saat berdarah-darah itu dia berjalan memanggil mamanya, kemudian, mamanya dengan tenang menuntunnya turun dari tangga dan setelah itu INGATANku lepas, aku tak ingat apa-apa lagi kecuali aku tengah duduk di sebuah tempat tidur dalam ruangan rumah sakit dan kulihat tangan dan kakiku ada bercak-bercak merah demam berdarah. 

Kalau itu sekedar mimpi, tentu aku merekamnya dalam buku Diari Mimpi, bukan buku Harian. Aku juga pernah demam tinggi mencapai 40 derajat Celcius lebih hingga mengigau ada Raja Ikan yang lari-lari di kebun rumahku, sampai aku bangun dari tempat tidur dan lari memanggil mamaku. Karena mengigau saat demam itu lucu juga, aku merekamnya dengan Tape Recorderku. Banyak hal yang kubicarakan ternyata, tapi tidak ada yang seNyata ubun-ubun kepala yang buncur berdarah-darah karena tertusuk dahan pohon. Jadi sepertinya saat itu bukan mengigau. Tapi ya sudah, kalau sudah dilepas sebagai kisah, siapa tahu ada yang mengenaliku ha ha ha ;)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar