Rabu, 15 Mei 2013

Manuskrip Celestine: Lagu Lama yang Indah (sebuah repost)




Judul: The Celestine Prophecy (Manuskrip Celestine)
Penulis: James Redfield
Penerjemah: Alfons Taryadi
Bahasa: Indonesia
Kulit Muka: Soft Cover
Tebal: 430 Halaman
Dimensi: 11 x 18 Cm
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun: Cetakan Ketiga, 1999



Sebuah buku tidak akan laris jika tidak berisi sebuah pemikiran. Dan sebuah pemikiran tidak akan menggebrak dunia jika tidak berupaya merevolusi. Setuju atau tidak, tapi inilah yang terjadi, dimana Novel Spiritual The Celestine Prophecy atau Manuskrip Celestine tidak hanya membuat heboh Dunia, akan tetapi sudah membius para pembacanya di seluruh dunia, bahkan juga di Indonesia.
Setelah mengalami lima kali cetak ulang dan pihak Penerbit Gramedia pun sempat membuat diskusi terbuka tentang novel ini. Manuskrip Celestine adalah sebuah ramalan tentang sebuah transformasi massal dalam masyarakat manusia. Dimana ada semacam kebangkitan dalam kesadaran yang berlangsung perlahan-lahan. Tidak bersifat agamawi, tapi bersifat spiritual. Ditengah hiruk pikuk bingungnya akan eksistensi diri, manusia mencari makna hidup. Dan novel ini menceritakan tentang perjalanan untuk menemukan suatu bentuk kehidupan manusia yang baru. [1]
                Sebenarnya apa yang ditulis dalam Manuskrip Celestine ini bukanlah hal yang baru. Sebelumnya kita punya Fritjof Capra dengan bukunya The Turning Point, lalu ada buku The Aquarian Conspirasy: Personal and Social Transformation in 1980’s dari Marilyan Fergusson; yang mana semua buku-buku itu, sama halnya dengan buku-buku James Redfield, yaitu menyadarkan kita tentang adanya perubahan paradigma cara pandang manusia terhadapa dunia ini, termasuk dalam bidang sains, yang tergabung dalam aliran kosmologi baru – bahwa hidup adalah petualangan suci.
                Bagi sebagian besar orang, sebut saja, pemeluk agama terbesar Indonesia yang Islam ini, bahwa Manuskrip Celestine memberikan perubahan besar bagi keberagamaan mereka. Benarkah ini? Makalah ini akan mencoba mengungkap dampak novel Celestine Prophecy (Celpro) bagi religiusitas seseorang dan juga dampaknya di bidang yang lainnya. Maksudnya adalah Celpro membawa kita mengenal New Age secara tidak langsung, lalu akan dibawa kemana pemahaman itu dan akan seperti apa bentuk pemahaman mereka itu.

MANUSKRIP CELESTINE: Lagu Lama yang Indah
                Meski bukan hal baru, tapi apa yang ditulis oleh James Redfield sangatlah indah. Ia akan membawa kita kepada suasana era tahun 60-an dimana “The Beautiful People”, para Hippies itu merasakan bahwa Sidharta Gautama bukan hanya milik orang Buddha saja, Kebijaksanaan I Ching pun bukan semata-mata milik Timur, tapi Barat yang beberapa insannya sudah ‘taubat’ pun juga memilikinya.
                Hal-hal menakjubkan dari Timur sudah memukau Barat sedari dulu, dan hanya beberapa yang bisa mengabadikannya dalam sebuah novel. Manuskrip Celestine adalah salah satunya. Untuk memahami efeknya kepada keberagamaan seseorang, maka dirasa perlu untuk menceritakan wawasan-wawasan apa saja yang terdapat di dalamnya.
                Manuskrip ajaib ini dibagi ke dalam beberapa bab. Tiap bab menceritakan wawasan khusus untuk hidup. Ramalan yang dibawa oleh manuskrip ini adalah bahwa dalam periode waktu ini, manusia akan mulai memahami wawasan ini secara berurutan, yang satu mengikuti yang lain, sementara kita tengah bergerak ke arah budaya yang sama, yaitu bersifat spiritual.
                Di dalam Celestine Prophecy ini ada sembilan wawasan yang menggambarkan mistisisme dengan bahasa psikologis, dan seri kedua dari buku ini, yaitu The Tenth Insight: Holding The Vision (dalam edisi bahasa Indonesia yaitu The Tenth Insight: Wawasan Kesepuluh, diterbitkan oleh Gramedia pula). Edisi kedua dari novel Redfield ini lebih membahas dimensi keruhaniyahannya, dimana disitu akan diceritakan cara-cara hidup baru yang dianut umat manusia yang ingin mencari makna hidup, tapi hilang karena dunia materi.
                Manuskrip Celestine berbicara tentang peristiwa kebetulan, intuisi, energi, evolusi dan etika interpersonal yang baru. Secara ringkas bisa dikatakan bahwa Manuskrip ini, dengan sembilan wawasannya untuk mengajari kita menghargai peristiwa kebetulan, menangkap pesan, memperhatikan energi, menyerapnya dan menggunakannya dengan benar. Lalu kita diharuskan untuk ramah lingkungan dan diajak untuk mempercayai bahwa manusia pun tengah berevolusi dan belum berhenti. Etika interpersonal mengajarkan yaitu kesadaran bahwa setiap pertemuan antara pribadi satu dengan yang lainnya itu menyiratkan etika, dan bersama-sama kita meningkatkan keruhaniaan kita, dan membentuk kesadaran baru manusia di millenium ketiga ini. [2]

CELPRO dan NEW AGE
Visi transformatif New Age dari personal ke sosial itu, sungguh paralel dengan arus utama kebangkitan spiritual dewasa ini, yang secara epistemologis dimatangkan James Redfield melalui empat karya besarnya sekaligus: The Celestine Prophecy: An Adventure (1993), The Tenth Insight: Holding the Vision, (1996), The Celestine Vision- Living the New Spiritual Awareness (1998), dan The Secret of Shambala (1999). "To change the world, we first had to change our selves," inilah pesan psikologis-spiritual James Redfield yang searah dengan gerakan New Age.
Secara sederhana, selain perkakas alat bantu peningkat kesadaran atau minyak essensial penenang, berbagai macam novel spiritual itu adalah sebuah produk komersil yang menyehatkan. Jadi, Novel Celestine ini adalah produk New Age. Menurut David Spangler, dalam bukunya Revelation: The Birth of a new age dan Emergence: The Rebirth of the Sacred, dikatakan kalau ada empat level gerakan New Age. Yaitu: Pertama, kategori komersial. Termasuk kategori ini adalah sepatu berlabel New Age, musik-musik New Age seperti Enya, Secret Garden, Enigma, Spiritus Sanctus, Anggun C. Sasmi (feat. Deep Spirit), rekaman kaset dan video relaksasi, teknik-teknik kesadaran (seperti reiki, zen, shamballa). Kedua, kategori daya tarik (glamour). Kategori ini sering menjelma dalam kebudayaan populer, penuh keanehan dan eksotis, kekuatan batin, spuranatural, occultisme, pemuja kesunyian (withdrawal). Ketiga, level New Age yang menaruh perhatian pada perubahan, seperti ingin terjadinya perubahan politik, bisnis, pendidikan, peran gender, ilmu, agama, psikologi. Kita mengenal psikologi psikoanalisis berubah menjadi behavioristik lalu menjadi humanistik dan New Age mengubahnya lagi menjadi Psikologi Tranpersonal. Sebut saja Danah Zohar. Dan dalam dunia pendidikan, sebut saja gaya mengajar seorang guru dalam film Dead Poet Society dimana cara mengajarkannya mengacu kepada keunikan setiap diri yang ada. Keempat, level New Age secara paradigmatik ingin mendefinisikan kembali makna ‘kesucian’ dan sekaligus mensakralisasikan ulang bumi, manusia dan kehidupan sehari-hari. Dan inilah New Age yang menjadi titik awal kebangkitan spiritualitas New Age dan kesadaran baru dalam kehidupan sehari-hari. Fokus utama New Age ini adalah transformasi utama pemikiran dan kehidupan secara global. Contoh seperti, pemikiran Seyyed Hosein Nasr dalam Antara Tuhan, Manusia dan Alam, Sachiko Murata dalam Tao of Islam, Hasan Askari dalam Lintas Iman Dialog Spiritual, buku-buku Hazrat Inayat Khan, Tagore.
Lalu bagaimana New Age ini akan berpapasan dengan agama? Akankah bertubrukan dengan dahsyat dan saling menghancurkan, atau malah mungkin saling bekerja sama?

NEW AGE dan FILSAFAT PERENNIAL
Kalangan New Age memakai filsafat perennial sebagai jalan keluar dari krisis moral dan spiritual. Karena, sophia perennis sebagai filsafatnya kalangan New Age, selalu menghidupkan pesan sejati fitrah manusia. Manusia mengalami krisis, karena telah melanggar fitrah asalnya sebagai manusia. Untuk itu, manusia perlu segera menghidupkan kembali fitrah asasinya dalam kehidupan sehari-hari. Fitrah asasi manusia, seperti berkiblat pada keadilan, kebenaran, kebersamaan, toleransi, sikap inklusif di tengah pluralitas, harus menjadi komitmen empiris dalam keseharian hidup manusia. Sayangnya, nilai-nilai asasi fitrah manusia itu, sudah kering dari lingkungan tradisi agama-agama formal. "Such religions are false," kata Hanegraaff melukiskan sikap New Agers yang alergi terhadap  agama-agama formal, karena dinilainya cenderung dogmatis, eksklusif, dan eksoteris.
Dalam Islam sendiri hal ini tidaklah asing. Diskursus ataupun perdebatan mengenai filsafat perennial beberapa waktu lalu, sempat meramaikan atmosfir pemikiran Islam di Indonesia. Respon terhadap pemikiran ini di beberapa kalangan pemikir Islam di Indonesia pada saat itu cukup positif. Filsafat Perennial atau philosophia perennis menurut Sayyed Hossein Nashr dalam pengantarnya untuk karya Schuon, Islam and the Perennia Philosophia, sesungguhnya bukanlah sesuatu hal  yang baru. Istilah ini pertama kali diperkenalkan di Barat oleh Augustinus Steuchus sebagai judul karyanya De Perenni Philosophia yang diterbitkan pada tahun 1540. Setelah itu istilah ini dipopulerkan oleh Leibniz dalam sepucuk surat yang ditulisnya pada tahun 1715.

BERTEMUNYA DENGAN ISLAM
Kita mengenal sophia perennis, Sanata dharma atau al hikmah al-khalidah, religio perennis, scientia sacra, sama halnya dengan kita mengenal Guenon, Schuon, Seyyed Hossein Nasr, Corbin, Burchardt, dkk yang menolak pandangan hidup filsafat modern yang relativistik, positivisme dan rasionalistik. Dimana konsep ini mengandung pandangan bahwa di dalam setiap agama itu terdapat tradisi-tradisi sakral yang perlu dihidupkan dan dipelihara secara adil, tanpa menganggap salah satunya lebih benar dari yang lain.
Benang merah yang harus ditekankan dalam memahami filsafat perennial adalah melihat agama dalam realitas transendental aspek esoteris. Bukan agama dalam kenyataan faktual. Artinya pada tingkat ini kita tidak mendiskusikan dan membahas mengenai agama mana yang diterima disisi Tuhan dengan pendekatan empiris bukan ini penekanannya. Dengan cara transendental dapat ditemukan norma-norma abadi yang hidup dalam hati setiap agama-agama besar dan tradisi­tradisi spiritual kuno. Dan ini semua membawa kita untuk melakukan dialog agama atau sekedar mengiyakan bahwa bisa jadi Transcendent Unity of Religions-nya Schuon bukan sekedar utopia belaka.
Di majalah ISLAMIA, dikatakan oleh Adnin Armas bahwa gagasan Schuon tentang titik temu agama-agama pada level esotoris adalah ‘utopia’, hanya karena gagasan ini merupakan hasil dari pengalamannya ketika terlibat dari kehidupan agama-agama. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terburuk yang pernah ada. Tidakkah akan cukup mengerikan kalau akhirnya mungkin kita juga akan mengetahui bahwa sebenarnya ‘agama’ sendiri juga hasil dari pengalaman spiritual seseorang? Kesimpulan dangkal bahwa Islam yang dikenalkan Schuon bukanlah Islam untuk ummat, malah mengaburkan arti Islam itu sendiri. Karena pengenalan Islam ala Schuon-lah yang mampu menggeret ratusan ribu manusia untuk kembali ke Islam. Sebut saja Gai Eaton.
New Agers lebih gandrung dengan pada kearifan perenial tradisional dalam mengatasi kemelut krisis moral dan spiritual, karena sophia perennis selalu menghidupkan pesan sejati fitrah manusia. Manusia mengalami krisis karena telah melanggar fitrah asalnya sebagai manusia. Karena itu manusia perlu segera menghidupkan kembali fitrah asasinya dalam kehidupan sehari-hari. Fitrah manusia selalu berkiblat kepad akeadilan, kebenaran, kebersamaan, toleransi, sikap inklusif di tengah pluralitas – harus menjadi komitmen empiris dalam keseharian hidup manusia. Sayangnya, nilai-nilai fitrah itu sudah kering dari lingkungan tradisi agama formal. [3]
Maka dari itu bisa dibilang kalau para New Agers membenci agama formal yang terlalu dogmatis, ekslusif, eksoteris. Meski banyak juga dari mereka yang lunak terhadap pluralitas agama karena agama-agama formal itu juga memiliki nilai-nilai kearifan dan menuju kesana. Meski kadang konsep ‘holy war’ dalam agama membuat lunaknya New Agers tidak bisa melunturkan perkataan bahwa such religions are false.
Didalam agama kita mengenal konsep keselamatan, tapi tidak di New Age. Tidak disini dalam arti bahwa hal itu tidaklah penting. Karena dalam New Age, yang terpenting adalah proses itu sendiri yang akan membawa manusia itu menuju pencerahan atau enlightment. Dan ini mirip sekali dengan konsep insan kamil dalam Islam, konsep suci kembali atau fitri dalam Islam.
Dalam konsep insan kamil atau istilah psikologisnya adalah orang yang menggapai self achievement tertinggi, bisa dicapai (memang dicapai!) dengan pengalaman spiritual atau peak experience. New Age mengajarkan ini semua bahwa tingkat kesadaran tertinggi digapai dengan kontemplasi, pengalaman spiritual yang dicapai dengan berbagai cara, sebutlah TM, Yoga, Meditasi, Reiki, Zen, dan banyak cara lainnya yang berdasarkan kehendak hati. Bahkan pengalaman spiritual ini bisa terjadi dimana saja, seperti di pegunungan (saat tafakur!), di dalam kamar, bahkan ditempat kerja sekalipun jika itu memungkinkan. Hal ini pula juga tersebut dalam Manuskrip Celestine-nya Redfield, bahwa segala tempat di bumi ini suci. Dan ini sama seklai tidka bertolak belakang dengan Islam yang mengatakan bahwa “Setiap bumi adalah masjid, karena itu suci”. Tapi dalam memahami ini, jangan kita terpancing dengan tradisi kekakuan lalu mempertanyakan apakah WC umum juga suci. Itu dikembalikan kepada diri kita masing-masing, apakah WC umum bagi anda adalah tempat suci atau tidak.
Buku ini (Celestine Manuskrip) menyiratkan ajaran New Age yang sama sekali tidak bertolak belakang dengan agama apapun (termasuk Islam) karena yang digembao-gemborkan adalah nilai etika dan berusaha mengatasi komunikasi interpersonal. Komunikasi semacam ini akan membawa kita kepada sebuah forum dimana kita akan membicarakan hal-hal yang tidak dogmatis dan tersekat-sekat. Seperti yang para New Agers cetuskan, begitu pula para pluralist seperti Hasan Askari katakan bahwa sudah saatnya bagi kita untuk bersama-sama saling meningkatkan kerohanian kita dengan mengacu pada keindahan diri kita sendiri saat berevolusi. Bahkan menurut Osho dalam bukunya Psikologi Ghaib, kalau sudah saatnya bagi manusia untuk berhenti berevolusi dan memulai revolusi diri, yaitu kembali mempertanyakan dan menjawab apa visi misi hidup kita di dunia.
Bahkan New Age pun tak tanggung-tanggung memperkenalkan bagaimana cara kita mengamalkan apa yang kita punya. Dalam konsep Islam dikenal sebagai zakat. Dari sini, kita bisa lihat bahwa New Age bukanlah agama baru, dan tidak bertentangan dengan agama-agama besar apapun di dunia. New Age hanyalah sebuah spiritualitas tanpa institusi yang mana sebagian New Agers mungkin masih ada yang antiagama (karena trauma!) tapi juga ada yang moderat (karena ia seorang pluralist!). Jika Islam mempunyai konsep rahmatan lil al amin, maka New Age, seperti yang digambarkan oleh Hasan Askari, bahwa sudah saatnya kita berpindah dari yang lahiriah ke batiniah (wawasan kesepuluh) dan kedamaian akan tersebar luas. Dan hubungan antaragama merupakan tuntuan agama dari dunia multiagama. Pluralitas agama (dilihat dari kacama New Agers) akan menjamin agama tetap menjadi agama.

KEPUSTAKAAN
Askari, Hasan. 2003. Lintas Iman Dialog Spiritual. LkiS: Yogyakarta
Capra, Fritjof. 2002. Titik Balik Peradaban: Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan. Bentang Budaya: Yogyakarta.
Chalfant, H. Paul & Beckley, Robert E & Palmer, Eddie. 1994. Religion in Contemporary Society. Peacock Publisher: Illinois.
Munawar-Rachman, Budhy. 2004. Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman. PT. Raja Grafindo Pustaka: Jakarta.
Redfield, James  & Murphy, Michael & Timbers, Sylvia. 2002. God and The Evolving Universe: The Next Step in Personal Evolution. Penguin Putnam: New York.
Redfield, James. 2001. The Celestine Prophecy. Gramedia: Jakarta
Smith, Huston. 1999. Agama-agama Manusia. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta
Sukidi. 2001. New Age: Wisata Spiritual Lintas Agama. Gramedia: Jakarta








[1] Redfield, James. 2001. The Celestine Prophecy. Jakarta: Gramedia., h. 16
[2] Disarikan dari Redfield, James. 2001. The Celestine Prophecy. Jakarta: Gramedia.
[3] Sukidi. 2001. New Age: Wisata Spiritual Lintas Agama. Jakarta: Gramedia., h. 20-21

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar